Sidang Praperadilan Kapolsek Sungai Lilin Kian Gempar

Sidang Praperadilan Kapolsek Sungai Lilin Kian Gempar, Saksi Ahli Sebut Jika di BAP Intimidasi Tidak Dibenarkan

MUBA,medianusantaranews.com– Sidang Praperadilan yang diajukan pemohon Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto terhadap termohon Polsek Sungai Lilin Polres Muba kembali digelar di Pengadilan Negeri Sekayu, Jumat (21/12/2018).

Sidang keempat yang dipimpin oleh Hakim Andi Wiliam Permata SH ini beragendakan pembacaan duplik dari pihak termohon, pemeriksaan bukti tertulis dan mendengarkan keterangan saksi ahli Dr Marsudi Sutoyo yang diajukan pihak pemohon.

Saat memberikan keterangan di depan hakim, Dosen dari Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang, mengatakan, proses penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian harus sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.

Jika lama prosesnya pasti ada unsur penyimpangan, seperti pemaksaan saat pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), maka proses tersebut dinilai tidak benar. “Jika proses BAP ada paksaan itu salah, berupa indtimidasi atau kekerasan tidak dibenarkan,” kata dia.

Terkait penembakan terhadap pelaku kejahatan, itu boleh dilakukan jika sebagai pelaku mengancam keselamatan petugas. “Diluar Perkap itu adalah salah prosedur, itu aturan yang harus dijalani pihak kelolisian,” pungkasnya.

Sementara, Kuasa Hukum kedua termohon Fahmi SH, mengatakan, pihaknya yakin Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto tidak bersalah dalam kasus tersebut. Dimana penangkapan keduanya terkesan direkayasa dan dipaksakan.

“Kita punya bukti kuat mereka tidak bersalah, salah satunya BAP yang acak-acakan. Mereka dipaksa memberikan keterangan, hasilnya di BAP tidak ada yang sinkron,” jelasnya.

Fahmi membeberkan, proses penangkapan terhadap keduanya pun dinilai janggal. Sebab, Salasun ditangkap saat sedang berada dalam pengajian dan diberikan tembakan pada kaki sebanyak tiga kali, salah satunya ditelapak kaki

“Salasun saat itu sedang mengikuti pengajian, tiba-tiba ada tetangga yang menelpon memberitahukan bahwa hendak ditangkap. Karena merasa tidak bersalah Salasun tetap meneruskan pengajian. Namun tiba-tiba anggota Polsek Sungai Lilin menjemput dan membawa Salasun, saat dibawa sedang memakai sarung dan dinaikkan ke dalam mobil,” terang Fahmi setelah melakukan penelusuran dari para saksi.

Usai diamankan pada malam hari, kata Fahmi, pagi harinya Salasun dibawa kembali kerumah untuk mengambil sejumlah barang bukti yang dalam kenyataannya tidak ada, namun tetap dipaksakan. Dimana salah satu barang bukti yang diambil adalah pakaian sang istri yang sudah dibeli pada tahun lalu, bukan dibeli usai melakukan kejahatan seperti alibi kepolisian.

“Setelah itu, dia dibawa ke Polsek Sungai Lilin. Nah, dalam perjalanan itulah Salasun ditembak sebanyak tiga kali. Salah satunya ditembak ditelapak kaki dan itu secara logika tidak mungkin ditembak sambil berlari dan kena telapak kaki. Salasun mengaku ditembak di daerah perkebunan Sungai Lilin,” ungkapnya.

Sedangkan untuk Sugeng Purwanto, sambung Fahmi, dikatakan pihak kepolisian menyerahkan diri ke Polsek Sungai Lilin. Padahal kenyataannya, Sugeng Purwanto ditangkap saat sedang tidur sore dirumahnya. “Sugeng itu tidak menyerahkan diri, tapi ditangkap dirumah. Mereka berdua dipaksa untuk mengaku,” tegasnya.

Sekedar mengingatkan, Termohon Salasun Tamamu dan Sugeng Purwanto merupakan dua dari lima yang dijadikan tersangka yang ditangkap dan dianiaya bahkan ditembak 3 lubang dikakinya oleh jajaran Polsek Sungai Lilin, lantaran diduga terlibat dalam kasus pencurian dengan pemberatan di Desa Mulyo Rejo Kecamatan Sungai Lilin, pada (28/10/2018) yang lalu.(waluyo)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *