Menegeman Pt. BAP Dituding Tutup Mata, Limbah Pabrik Cemari Sungai di Desa Karang Anyar

BANYUASIN, medianusantaranews.com- Warga Desa Karang Anyar Kecamatan Sumber Telang Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan mulai mengelauh, lantaran air sungai yang membelah didesanya menyebarkan aroma tidak sedap dan warna airnya pun menjadi keruh.

Aroma busuk dan warna air sungai menjadi keruh tersebut diduga kuat terdampak dari air limbah perusahaan dari PT. Bintang Agung Persada (BAP) yang bergerak dibidang pabrik pengelolaan Getah Karet dan yang terparah warga yang terdampak limbah itu yang berdumisili di lingkungan 4 dan 5, ucap Win (45) warga setempat kepada wartawan (19/5/2019).

Menurutnya, warga yang berdumisili disepanjang aliran sungai itu selama ini untuk kepentingan mandi dan mencuci memanfaatkan air sungai itu, tetapi semenjak dua tahun lalu ada pabrik getah karet dan limbahnya dialirkan ke sungai, maka sekarang airnya berbau busuk dan dikulit menjadi gatal.

Win menambahkan, hadirnya perusahaan itu dilingkungan masyarakat didesa ini jadi tercemar, bahkan bukan hanya air sungai saja bahkan udara didesa ini pun ikut tercemar dan mulanya hadirnya Pt itu dapat mensejahterakan serta peduli dengan masyarakat penyangga dan banyak tenaga kerja dari desa setempat, yang buktinya jauh dari harapan.

” Jangankan CSR bisa dinikmati dari perusahaan itu, untuk pengelolaan limbahnya saja saat ini justru membuat resah kehidupan masyarakat penyangga”, ungkapnya.

Tercemarnya air dialiran sungai didesanya oleh limbah pabrik karet tersebut lanjut Win, warga membuat kolam didekat rumah untuk mendapatkan air bersih guna kebutuhan mandi dan mencuci. Sebelum permasalahan limbah cair dari perusahaan itu melebar, dirinya berharap perusahaan ada kepedulian terhadap kehidupan masyarakat penyangga jangan tutup mata, tegasnya.

Keluhan yang sama juga dilontarkan Leman (37) warga setempat membeberkan bahwa sudah 2 tahun ini warga menahan diri tidak mengeluh udara tidak sedap, air sungai berubah warna hitam berbau dan terasa gatal dikulit ketika digunakan. Dikira perusahaan itu ada kepedulian, ternyata kesanya justru tutup mata.

“Dua tahun kami rasa sudah cukup menahan diri, sekarang sudah saatnya warga bersuara, kalau mau diceritakan banyak yang dikeluhan. Selama perusahaan itu beroperasi, belum ada yang namanya dana CSR dirasakan, sedangkan kepedulian perusahaan terhadap kehidupan masyarakat penyangga pun tidak ada”, terangnya kecewa.

Yang lebih dikecewakan lagi menurutnya, dari perusahaan itu tidak memberdayakan masyarakat penyangga dapat bekerja didalam perusahaan itu dan PT. BAP lebih banyak menerima tenaga kerjanya banyak warga dari luar, sekalipun ada jumlahnya sangat sedikit sekali tenaga kerja dari Desa penyangga.

” Melalui pemberitaan ini supaya PT. BAP bisa mendengar keluhan kami dan kepada Pemerintah Banyuasin memohon ada langkah tegas mencarikan solusi dari persoalan yang menurut warga sangat mendesak, jika tidak segera diambil sikap terutama soal ketenaga kerjaan dan soal limbah akan berdampak jangka panjang terhadap ekositem alam dan anak cucu kami kena imbas tidak lagi menikmati lingkungan yang sehat,” teganya.

Manager perusahaan melalui Wakil Menegeman Harisman saat dikonfirmasi via ponsel yang ada hingga berulangkali dihubungi, dalam keadaan terhubung aktif tidak diangkat. Termasuk kembali mencoba komunikasi melalui pesan singkat SMS dan Whatsapp hingga berita ini diterbitkan juga tidak ada balasan, (waluyo).




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *