DILEMA HARGA Komoditas KOPI

Lampung (MNN)—Saat ini khususnya di beberapa daerah sentra penghasil kopi sedang panen dengan hasil yang menggembirakan. Sayangnya hasil produksi kopi tidak di imbangi dengan harga jualnya. Bahkan pada tingkat petani, harga tersebut sempat anjliok hingga menyentuh angka Rp. 15 ribu per kg.


Tentu saja kondisi ini tidak bisa dibiarkan mengikuti mekanisme pasar. Pemerintah selaku regulator harus membuat kebijakan dan langkah strategis untuk mengatasi masalah ini. Langkah tersebut harus didukung oleh semua stakeholder atau seluruh pemangku kepentingan terkait dengan industri perkopian. Mulai dari distribusi pupuk, pembinaan, pengolahan, sampai pada aspek pemasarannya.
Dibeberapa daerah khusususnya Lampung dan Sumsel saat ini harga kopi dibawah Rp 20 ribu/kg, tentu nilai tersebut tidak sebanding dengan harga secangkir kopi di jaringan kedai kopi Starbuck.

Sekedar data, harga secangkir kopi type Double Shots Iced Shaken Espresso Rp 46.000, Caffe Americano Rp 32.000 Rp 35.000 Caramel Macchiato Rp 54.000Rp 59.000, Asian Dolce Latte Rp 50.000.
Apalagi jika kita bandingkan dengan harga secangkir kopi Starbucks Corp di Rusia. Dimana Starbucks latte di negeri beruang kutub ini. berharga lebih dari US$12 per cangkir.

Seperti di Lansir oleh Bisnis.com 09 Apr 2019,(Dika Irawan) menyebutkan, Hampir semua varian kopi mengalami pelemahan harga.
Berdasarkan laporan bulanan Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO), sepanjang Maret 2019, harga rata-rata kopi berdasarkan indikator komposit ICO terjungkal sebanyak 3,1% menjadi US$97,50 sen per pon.

Level terendah sejak Oktober 2006 yang mencapai US$95,53 sen per pon.

Harga kopi menyentuh level tertingginya pada US$99,61 sen per pon pada awal Maret lalu. Adapun level rendahnya, di kisaran US$96,23 sen per pon pada 22 Maret 2019.

Dilain pihak “Prospek panen besar dari Brasil untuk periode 2019/2020 dan peningkatan ekspor bulanan 2018/2019 dibandingkan tahun sebelumnya berkontribusi pada pelemahan harga kopi tahun ini.

Harga kopi untuk semua kelompok indikatornya juga jatuh. Antara lain, harga kopi Brazilian Naturals melemah 4,2% menjadi US$95,81 sen per pon, level terlemah sejak Juli 2006.

Harga kopi untuk Colombian Milds pun berkurang 2,1% menjadi US$125,23 sen per pon. Begitu pula harga kopi Other Milds jatuh 3,6% menjadi US$128,89 sen per pon.

Sebaliknya, pengiriman kopi dalam 5 bulan pertama dalam periode 2018/2019 meningkat signifikan sebanyak 6,2% menjadi 52,27 juta kantong dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Hal tersebut merefleksikan suplai kopi berlimpah di pasar kopi global.

Ekspor semua varian kopi tercatat bertambah. Dalam hal ini, pengiriman Brazilian Natural tumbuh sebanyak 20,4% menjadi 18,65 juta kantong, dan Colombian Milds tumbuh 7,7% menjadi 6,63 juta kantong.

Untuk ekspor Robusta tumbuh 2,5% menjadi 17,93 juta kantong. Namun, pengiriman kopi Other Milds jatuh 10,1% menjadi 9,05 juta kantong.

Lalu solusi apa yang harus dilakukan. Salah satu upaya pemerintah terkait Perkebunan Kopi adalah “Menimbang Konversi Robusta ke Arabika”

Saat ini pemerintah mulai gencar mengonversi lahan kopi robusta yang berada di atas ketinggian 1.000 mdpl menjadi arabika yang memiliki harga lebih kompetitif. Namun, edukasi mengenai proses budi daya yang berbeda antara kedua varietas tersebut tidaklah mudah dan ini menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan.

Rencana di atas tercantum peta jalan (roadmap) jangka panjang untuk meningkatkan produksi kopi arabika sekaligus memperbaiki pendapatan petani dan pemasukan yang diterima pemerintah.

Saat ini, harga kopi robusta yakni US$1.650/ton sedangkan kopi arabika sekitar US$6.000/ton, atau terdapat perbedaan senilai US$4.350/ton.

Dalam jangka pendek saja harga kopi arabika diperkirakan terus merangkak US$2,9/kg menuju US$2,96/kg pada 2025. Namun, tidak demikian dengan kopi robusta yang stagnan di harga US$2/kg pada 2025.

Tidak hanya itu, kopi arabika yang lekat dengan kopi spesialti pun berkembang pesat dengan peningkatan jumlah penjualan sebesar 158,8% sejak 2011 dan pertumbuhan kedai sebanyak 686 (107,1%) kedai sampai dengan 2018. Hal tersebut mengindikasikan adanya peluang bisnis atau usaha kedai kopi spesialti.

Rata–rata pertumbuhan konsumsi spesialti yang lebih pesat menunjukan peminat kopi spesialti semakin banyak. Dari total pasar kopi senilai Rp20,6 triliun, 17,4% atau setara dengan Rp3,6 triliun adalah pasar kopi spesialti.

Tergiur dengan marjin harga dan potensi pasar tersebut, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang mengatakan pihaknya sudah mulai mencari lahan tanam yang cocok untuk varietas arabika ini.

Meskipun demikian, dia menegaskan tidak semua lahan tanam kopi robusta akan serta merta dikonversi. Menurutnya, varietas arabika bisa dikembangkan di lahan dengan ketinggian lebih dari 1.000 mdpl.

“Disesuaikan tempatnya, jangan sampai wilayah yang cocok untuk arabika, ditanami robusta. Daerah dengan ketinggian [lebih dari 1.000 mdpl] itu terbatas sehingga harus dimaksimalkan untuk arabika karena harga bagus,” katanya, belum lama ini.
Tahun lalu sudah ada 18.000 hektare lahan tanam yang sudah diremajakan dan dialihfungsikan dari robusta ke arabika.

Saat ini luas tanam komoditas kopi adalah 1,2 juta hektare, 29% diantaranya adalah Arabika, 1% adalah Liberika, dan 70% sisanya adalah Robusta. Varietas arabika mayoritas dibudidayakan di berbagai daerah di Pulau Sumatra.

TANTANGAN
Kendati peluang terbuka lebar untuk kopi arabika, nyatanya pelaku usaha tidak menanggapi upaya konversi lahan ini dengan bersemangat.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo mengatakan, perlu usaha lebih untuk membudidayakan kopi arabika.

“Pada prinsipnya, hal tersebut [rencana konversi] sangat bagus karena akan meningkatkan pendapatan dari petani, tapi tetap harus di adakan pendampingan dan edukasi, karena pola tanam dan proses pascapanen kopi arabika dan kopi robusta berbeda.
Misalnya, Arabika itu rentan penyakit. Kita berada di daerah vulkano, maka kualitas lebih baik dan suplai lebih rendah dari demand, sehingga harga [arabika] tinggi. Namun, arabika Kolombia dan Brasil harganya lebih rendah dari kita karena suplai sama dengan demand. Kebijakan harus memikirkan long term karena kopi baru produksi setelah empat tahun tanam.

Selain itu, kendati arabika memiliki kecenderungan diekspor, konsumsi dalam negeri terbilang rendah, terbatas hanya di cafe-cafe saja. Di sisi lain, robusta tetap berpeluang diekspor karena memiliki pasar yang universal.
Terakhir, adalah biaya produksi. Berdasarkan kajian Independent Research & Advisory Indonesia, biaya produksi kopi arabika di Indonesia mencapai US$2.933/ton, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara penghasil lain seperti Kolombia dan Brazil yang reratanya US$1.666/ton. Adapun, biaya produksi kopi robusta hanya US$1.079/ton.
Pertanyaan saya sbg anak petani kopi Lambar; Sampai kapan kita harus begini… Pasrah??? Oh tentu saja Tidak, lalu Dari mana harus memulai perubahan…? Sehingga antara Produksi, Kualitas, Harga dan Kesejahteraan mencapai titik keseimbangan jika kita gambarkan dalam sebuah Kurva.(Yunada)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *