Buka IPA ke-43, Menteri ESDM: Industri Migas Harus Makin Efisien

JAKARTA(MNN) — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menekankan pentingnya efisiensi di industri minyak dan gas bumi (migas) dalam menghadapi fakta ketidakpastian ekonomi global. Dia meminta semua kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas meningkatkan eksplorasi blok migas demi menjaga ketahanan energi ke depan.

Hal itu disampaikan Jonan saat membuka gelaran Indonesia Petroleum Association (IPA) ke-43 Convention and Exhibition (Convex), 4-6 September 2019 bertemakan Driving Exploration and Optimizing Existing Production for Long Term Energy Security di Jakarta Convention Center Senayan Jakarta, Rabu (4/9/2019).

“Sebagai regulator, kami hanya menekankan peningkatan tata kelola termasuk harapan kami untuk lebih efisien (di sektor migas). Saya sudah minta Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) fokus bagaimana caranya meningkatkan eksplorasi,” ujarnya di hadapan peserta seminar.

Seperti bunyi keterangan pers yang diterima redaksi Kamis (5/9/2019), ia mengafirmasi titik perhatiannya terhadap peran SKK Migas mengawal program kerja kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. “Saya tidak begitu khawatir mengenai (risiko) gross split atau PSC lainnya. Yang saya tekankan ke SKK Migas mengenai cost management,” kata dia.

Perkembangan teknologi baru, tegas Jonan, dapat membantu para pelaku usaha dalam memperbaiki tata kelola dan meningkatkan efisiensi. Harapannya, efisiensi ini mampu mengerek harga migas yang lebih ekonomis.

“Saya percaya dengan teknologi baru yang bisa memperbaiki efisiensi. Teknologi bisa memperbaiki (tata kelola) dan efisiensi bisa memengaruhi harga (migas),” ujar Menteri Perhubungan ke-37 Indonesia (27 Oktober 2014-27 Juli 2016) ini.

Menurut dia, hal yang perlu diperhatikan para stakeholder maupun masyarakat Indonesia yakni sumber migas. Dimana, migas adalah sumber energi yang tak bisa diperbarui dan yang bisa dilakukan hanya mencari sumber baru. Sehingga ini jadi perhatian penting bagi keberlangsungan industri migas itu sendiri.

“Tidak ada seorang pun bisa menciptakan gas baru, kita hanya bisa menemukan sumber yang lain. Harga minyak 10 tahun lalu US$120 per barel, sekarang US$58-an per barel. Ini kita tidak bisa prediksi (harga) yang masih di tangan, jadi kita harus efisiensi biaya atau bisnis,” tegas Jonan.

Mantan Dirut ke-22 PT KAI (25 Februari 2009-27 Oktober 2014) itu menambahkan masyarakat Indonesia perlu berbangga karena pada saat ini beberapa blok migas telah bisa dinasionalisasi seperti Lapangan Abadi, Blok Masela, dan lain-lain.

Jonan pun optimis secara perlahan industri migas nasional akan terus berkembang jadi lebih baik, lebih efektif dan efisien melalui perubahan fiskal baru. “Melalui sistem fiskal (gross split), pelan-pelan kita segera membuat industri ini lebih kompetitif,” pungkasnya optimis.

Terpisah, 2019 IPA Convex Chairwoman’s Foreword Hanny Denalda mendampingi Presiden IPA Tumbur Parlindungan dalam situs resmi konvensi membenarkan adanya perubahan waktu pelaksanaan kegiatan. “IPA Convex biasanya bulan Mei beberapa tahun terakhir. Kami pindah ke September tahun ini untuk alasan strategis yang memungkinkan IPA Convex jadi acara industri paling utama dan akan menetapkan arah sektor hulu migas di kawasan ini,” ujarnya. (red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *