
Banyuasin, MNN- Bangunan jembatan dengan panjang 35 meter dan lembar 2 meter yang membentang diatas aliran primer Sungai Bungin Desa Penuguan Kecamatan Selat Penuguan Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan itu yang dibangun sejak awal tahun 1980 an seiring masuknya warga transmigrasi ketika itu hingga saat ini belum pernah tersentuh adanya perbaikan baik, apalagi dilakukan rehab total dari Pemerintah Kabupaten Banyuasin maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, padahal badan jembatan itu merupakan jalan Kabupaten yang menghubungkan antar Desa dalam Kecamatan dan Kabupaten termasuk yang diluar Kabupaten Banyuasin.
Berjalan waktu kondisi badan jembatan tersebut saat ini kian hari makin memprihatinkan, karena tiang penyangga badan jembatan terlihat sudah patah, guna melancarkan arus transpotasi jalan darat oleh warga dari dua Desa Selat Penuguan dan Kelapa Dua dilakukan perbaikan ala kadarnya yang tiang penyangga badan jembatan itu ditempel dengan Kayu Gelam, yang penting dapat dilalui oleh kendaraan roda dua saja terutama bagi para pelajar menuju kesekolah dan sebaliknya.
Pantauan media ini dilokasi, jika melintas diatas jembatan itu tidak dengan berhati-hati bisa terjebak dan kecemlung kedalam sungai dari ketinggian dasar sungai lebih 6 meter, karena lantai dasar jembatan yang terbuat dari kayu yang serba darurat, sedangkan aktivitas transpotasi jalan darat warga termasuk pelajar yang setiap hari sangat padat, sebab hanya satu-satunya akses jalan darat hanya melalui jembatan itu.

” Kalau dalam kondisi tidak habis hujan kami biasanya berani berboncengan memakai kendaraan ini, cum kalau pasa ada hujan kami harus membantu mendorong motor, sebab kondisinya licin juga papan lantai jembatan sudah banyak yng telepas dari kuncian dan untungnya oleh orang tua sering berotong-royong melakukan perbaikan sekedar bisa dilalui saja”, terang Ria salah satu pelajar yang setiap hari melintas diatas jembatan yng sudah rapuh berangkat sekolah (12/3/2020).
Keterangan Kades Penuguan Bahtiar dan mantan Kades Kelapa Dua Rastam saat ditemui media ini bahwa masalah kerusakan jembatan tersebut setiap tahun selalu diusulkan baik ke Pemkab Banyuasin dan Pemerintah Provinsi, entah apa hingga hari ini tahun 2020 juga belum ada tanggapan untuk direalisasikan, kwatirnya pas air laut pasang ada korban jiwa, maka sebelum ada kejadian itu supaya segera dilakukan perbaikan.

Dikatakan Bahtiar, bagi warga khususnya para pelajar “Kalau Pingin Pintar mereka harus siap bertaruh nyawanya”, sebab kondisi badan jembatan sudah benar-benar sangat memprihatinkan, sambung Rastam seraya menambahkan jika sampai akhir tahun 2020 ini masih belum dilakukan perpebaikan secara permanen dan dimungkinkan dilokasi jembatan itu bisa memakan korban jiwa, bila dibiarkan seperti itu.
Hingga berita terkait kondisi jembatan itu ditayangkan oleh media ini, pihak terkait dari Pemkab dan DPRD Banyuasin maupun Provinsi Sumatera Selatan sengaja belum diminta konfirmasinya. (waluyo).








