Menembus Kabut “Koordinasi” di Lubang Sumur Minyak Illegal Drilling di Muba

OLeh : Boy_Charles

Mubamedianusantaranews.com- Kesaksian seorang mantan pekerja tambang minyak rakyat baru-baru ini membuka kotak pandora yang selama ini menjadi rahasia umum: bahwa ekosistem minyak ilegal bukanlah operasi “kucing-kucingan” yang sembunyi-sembunyi, melainkan sebuah industri yang terstruktur, tercatat, dan diduga kuat dipelihara.

 

Dalam narasinya, sang mantan pekerja menyebut sosok “tukang polot” (pekerja pembersih/teknis sumur) sebagai saksi kunci. Mereka bukan sekadar buruh; mereka adalah pemegang data valid tentang siapa sebenarnya pemilik modal di balik sumur-sumur tersebut.

 

Jika jurnalis atau pihak berwenang ingin mencari dalang, tukang polot adalah pintu masuknya. Namun, pertanyaannya: benarkah kita mau mencari tahu?

 

Hal yang paling mengejutkan adalah alur distribusi yang diceritakan. Minyak mentah tidak mengalir begitu saja. Ada antrean, ada rute yang dijaga, dan yang paling krusial: ada “portal pencatatan”.

 

Di titik inilah, nota-nota dibuat dan uang “koordinasi” untuk oknum penegak hukum dihitung. Sebuah sistem yang begitu rapi sehingga sangat mustahil jika otoritas setempat mengaku tidak tahu-menahu tentang siapa pemilik tambang maupun pengolahannya (masakan).

 

Fenomena ini melempar tamparan keras bagi penegakan hukum kita. Jika seorang pekerja level bawah saja mengetahui detail alur setoran dan titik portal, maka ketidaktahuan aparat hanya bisa diartikan dalam dua hal: kelalaian yang fatal atau pembiaran yang disengaja karena ikut menikmati aliran dana tersebut.

 

Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan rakyat kecil yang mencari sesuap nasi di lubang sumur, sementara para pemilik modal dan oknum pelindungnya tetap aman di balik layar, terlindungi oleh sistem nota dan portal koordinasi.

 

Sudah saatnya penyelidikan dilakukan lebih dalam, bukan sekadar menutup sumur di permukaan, tapi memutus rantai aliran uang yang mengalir ke kantong-kantong oknum yang seharusnya menjadi penjaga hukum.

 

Transparansi hanya akan muncul jika kita berani mewawancarai mereka yang bekerja di garis depan, seperti para tukang polot, dan berani membongkar siapa saja yang berdiri di balik portal pencatatan itu. Tanpa keberanian itu, operasi penertiban hanyalah sandiwara musiman di atas penderitaan pekerja kecil.(MNN)

Admin : waluyo




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *