Diduga Getaran Aktivitas Penambang Batubara, Merusak Rumah Warga

Muba,medianusantaranews.com- Diduga dampak getaran aktivitas penambangan Batubara yang jarak lokasinya kurang dari 100 meter dengan permukiman warga di wilayah Dusun lima Desa Beji Mulyo ekstran B1 Kecamatan Tungkal Jaya Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Provinsi Sumsel tersebut menyebabkan rumah warga rusak, Air Sumur kering dan kebisingan lalu-lalang kendaraan telah dirasakan sangat menggagu.

Kerusakan rumah-rumah penduduk di Dusun 5 tersebut selain dindingnya pada retak, juga ada genteng dan Bubungan atap rumah ada yang runtuh dan parahnya lagi semenjak beroperasinya perusahaan penambang Batubara sejak 4 tahun lalu sumber mata air bersih dari sumur warga pun mengering, ujar Asko Susilo saat bincang dengan wartawan dikediaman Sadardiansyah yang juga korban (23/6/2023).

Asko menjelaskan sesungguhnya rumah miliknya dengan lokasi penambangan Batubara itu, saat ini masih berjarak sekitar 250 an meter, tapi masih terkena dampak kerusakanya akibat dari getaran aktivitas penambang Batubara. Terpus atau Bubungan rumah putus dan runtuh, kemudian menimpah atap dibawahnya, sehingga banyak yang pecah.

Kejadian dirumahnya itu lanjut Asko pada hari Rabu pagi (20/6) sekira pukul 04.00 wib jelang Sholat Subuh, hingga saat buktinya masih ada dan kejadian itu juga telah saya adukan kepada Kadus 5 bahkan juga sudah dengan Kades saya.

“Rumah saya lokasi dari penambangan Batubara yang berjarak lebih 250 meter saja masih terdampak getaran aktivitas perusahaan batubara itu dan mengalami kerusakan, apalagi yang rumah warga yang jaraknya kurang 100 meter, tentu kerusakanya akan lebih parah”, ungkap Asko sembari mengucap sangat kecewa dengan kinerja Pemdes Bejimulyo ini yang dianggap tidak respon dan terkesan tidak peduli.

Hal senada dibeberkan Sadardiansyah dikediamannya, yang rumahnya dengan lokasi penambangan batubara berjarak tak lebih 60 meter itu, selain dinding rumahnya banyak retak, sumber mata air bersih dari sumurnya pun yang telah puluhan tahun dikonsumsi kini kering tak ada sumber mata airnya lagi.

“Memang kerusakan rumahnya itu oleh pihak penambang Batubara dilakukan perbaikan, tapi cuma dipoles memakai semen putih dan itu buktinya. Memang penambang sudah membuat sumur bor satu titik yang tujuanya mengganti untuk warga yang sumber mata air sumurnya kering, tapi tidak mencukupi, debit air yang ada dengan jumlah warga yang membutuhkan air”, sambung Aripin warga yang juga jadi korban aktivitas penambang.

Ripin menambahkan dampak keburukan bagi kehidupan warga penyangga dari aktivitas penambang Batubara itu banyak seperti kebisingan dari suara aktivitas kendaraan pun dikeluhkan oleh warga, karena aktivitas penambang full bekerja 24 jam terus menerus selama 4 tahun ini, Namun warga disini tidak kompak dan takut diancam baik dari pihak penambang maupun aparat yang terlibat didalam perusahaan itu.

“Selama 4 tahun beroperasi baru tahun 2023 ini perusahaan itu peduli dengan kehidupan warga penyangga dengan menyalurkan bantuan Limbako dan itu pun setelah warga sini kesal melakukan aksi”, ujar Ripin sekaligus menutup perbincanganya.

Via WhatsApp dikonfirmasi Kades Bejimulyo, Broto terkait keluhan dan aduan warganya pun hingga saat ini masih tidak ada jawabanya.

Sementara dari pihak perusahaan penambang Batubara hingga beritanya ditayangkan oleh media ini memang belum ada yang diminta konfirmasinya.(MNN/waluyo)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *