Palembang, MNN- Direktur Produksi dan Pengembangan Holding Perkebunan Nusantara, Mahmudi dengan didampingi Direktur Operasional PTPN VII Husairi, mantan Direktur Operasional Tanaman Tahunan PTPN IX ini datang Kamis malam di Unit Betung menginspeksi kebun kelapa sawit dan karet PTPN VII di Wilayah Sumatera Selatan, Jumat yang lalu. Mereka meninjau Unit Pabrik Kelapa Sawit Betung, Unit Kebun Karet Tebenan, Unit Kebun Kelapa Sawit Betung Krawo dan sempat singgah di Unit Musi Landas.
Mahmudi secara cepat mengecek proses giling TBS di hampir semua stasiun. Lalu, ia bergegas menuju kolam pengolahan limbah. Hanya 15 menit, ia langsung menuju laboratorium pengujian mutu yang berada di Kantor Sentral.
“Saya lihat prosesnya baik dan normal.Tetapi saya minta masalah losess harus terus kita benahi. Saya tadi melihat di kolam limbah masih ada kandungan minyak. Terus, saya cocokkan di catatan laboratorium, ternyata memang tercatat losessnya masih di ambang toleransi, sekitar 1,8 persen,” sebutnya.
Kepada Karyawan di Unit Betung, Mahmudi berpesan agar angka kehilangan produksi di off farm atau pabrik ini terus diperbaiki. Ia menduga, masih ada setting mesin yang masih belum pas dengan karakter bahan baku yang diolah.

Manajer PTPN VII Unit Betung Hidayat, S.P. meminta dukungan untuk perbaikan dan standarisasi pada mesin Pabrik Kelapa Sawit yang dibangun tahun 1984 itu. Ia juga melaporkan kondisi on farm yang bisa mengejar target, tetapi masih terganggu oleh faktor keamanan.
“Kondisi saat ini, di Unit Betung baik on farm maupun off farm berjalan normal dan cukup kondusif. Persoalan losess justru terjadi dari faktor eksternal, yaitu pencurian TBS. Kebetulan saat ini harga TBS sedang naik, ancamannya juga naik. Kami kerahkan semua kekuatan dari Polri, BKO TNI, keamanan, dan seluruh asisten bersama karyawan patroli terus siang malam,” arahanya.
Kunjungan dilanjutkan dengan melihat kebun kelapa sawit di Afdeling III Unit Betung. Ia menemukan masih ada potensi produksi kelapa sawit, terutama berondolan sawit (butir buah tanggal) yang tidak dipungut bersih. “Ini masih banyak brondolan yang tidak terpungut. Tolong semua elemen, dari manajer, asisten, mandor, sampai pemanen untuk memperhatikan berondolan ini. Sebutir brondolan ini nilainya sekitar Rp 50. Saya punya hitungan berapa nilai losess dari berondolan ini. Jika diakumulasikan bisa Rp 800 miliar per tahun di seluruh PTPN,” ungkapnya.
Saat menginspeksi kebun karet Unit Tebenan, Mahmudi meminta seorang penyadap untuk melakukan uji sadap. Ia merasa perlu menguji langsung untuk memastikan pengaruh virus fusicocum yang menyerang tanaman karet dalam dua tahun terakhir. “Alhamdulillah sepertinya dampak virus itu sudah berkurang. Daunnya sudah tumbuh dan pulih. Mudah-mudahan sehat terus dan berproduksi lebih baik,” katanya.
Kesempatan itu Manajer Unit Tebenan Andri, S.T. mengatakan akan mengoptimalkan penggalian produksi pasca serangan virus fusicocum. Ia menjelaskan, proses produksi di unit yang dia pimpin cukup kondusif dan produksi menunjukkan kenaikan.
Direktur Produksi dan Pengembangan Holding perusahaan perkebunan pelat merah di Indonesia ini melanjutkan inspeksi ke Unit Kebun Kelapa Sawit Betung Krawo. Merasa akan lebih dekat dan efektif dalam inspeksi kebun, Mahmudi mengajak rombongan meninjau kebun sawit di Unit Betung Krawo dengan sepeda motor.
Selain menginspeksi secara detail tentang losess dari off farm dan on farm, Mahmudi juga memacu kinerja karyawan dengan memberikan motiivasi dihadapan para Manajer dan Karyawan di Unit Betung Krawo, ia mengingatkan tentang keberlangsungan hidup perusahaan yang menjadi tanggung jawab semua Karyawan.
“Berondolan yang berserakan di hadapan kita ini adalah duit. Anggap ini adalah koin Rp 50-an. Ayo kita peduli, kita pungut untuk menambah jumlah produksi. Bukan hanya pemanen, tetapi mandor, asisten, manajer, termasuk saya, ayo peduli. Sebab, yang bisa mempercepat kebangkitan perusahaan kita, salah satunya adalah kepedulian terhadap berondolan,” bimbingnya.
Kepada puluhan karyawan Unit Betung Krawo yang berkumpul menyambut inspeksi, Mahmudi meminta dukungan untuk membangkitkan perusahaan dengan bekerja lebih semangat, lebih jujur, dan lebih peduli. Mahmudi berbaur dengan karyawan untuk meneriakkan yel-yel SIPro (Sinergi-Integritas-Profesional) yang menjadi tagline PTPN Group.

Daniel Solikhin, S.P. selaku Manajer Unit Betung Krawo mengatakan, masalah paling krusial di unit ini adalah pencurian TBS. Sedangkan produksi dari kebun yang dikelolanya menunjukkan peningkatan signifikan, saat dihububgi wartawan (23/2/2020).
Mahmudi bersama rombongan menyempatkan singgah di Balai Penelitian Karet Sembawa, instansi yang saat ini di-hire PT Riset Perkebunan Nusantara (RNI) dan di bawah Holding Perkebunan Nusantara
Menutup kunjungan kerjanya di Wilayah Sumatera Selatan, Mahmudi mengadakan rapat bersama seluruh Manajer PTPN VII Wilayah Sumatera Selatan di Kantor PTPN VII Perwakilan Sumatera Selatan di Palembang, (waluyo).








