PALI, 9 TAHUN BERDIRI BELUM ADA KANTOR SENDIRI, APRIZAL: TIDAK ADA RASA MALU

Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)
medianusantaranews.com

Pernyataan Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Provinsi Sumatera Selatan, Ir H Heri Amalindo MM yang mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten PALI memang sengaja belum memiliki kantor Pemerintahan sendiri karena mengedepankan pembangunan infrastruktur publik, sebagaimana dilansir di berita media online, Rabu (13/04/2022).

Pernyataan Pemimpin PALI itu mendapat kritikan keras dari Ketua PW GNPK RI Provinsi Sumsel, Aprizal Muslim.

Dikatakan Aprizal, statement itu diduga hanya sekedar membuang rasa malu, karena memang kenyataan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sudah 9 Tahun berdiri belum memiliki kantor Pemerintahan sendiri, itu adalah fakta dan sangat memalukan masyarakat Kabupaten PALI.

” Pernyataan itu diduga cuma sekedar membuang rasa malu, itu bukan alasan yang tepat, karena sudah berumur 9 tahun belum memiliki Kantor Pemerintahan sendiri ” Ucap Aprizal.

” Jangan jadi alasan karena membangun infrastruktur publik, tolong sebutkan apa saja infrastruktur publik yang sudah benar benar di capai Kabupaten PALI selama 9 tahun ini ” Aprizal mempertanyakan.

” Kalau infrastruktur jalan misalnya, akses jalan mana saja yang sudah benar benar mencapai target, terkecuali membangun jalan dengan biaya mahal, namun kwalitasnya jelek ” Sambungnya.

” Coba kita hitung ada berapa KM panjang jalan di Kabupaten PALI, baik jalan milik Kabupaten maupun jalan perusahaan yang sudah dibangun Kabupaten PALI, buka data LPSE kemudian kita hitung juga dana yang sudah dianggarkan, masuk akal atau tidak ” Tambahnya.

” Atau mungkin yang dimaksud Beliau itu adalah proyek proyek infrastruktur pengerukan danau, proyek embung dimana mana, proyek normalisasi sungai yang sudah menghabiskan Uang APBD Kabupaten PALI beratus ratus miliar, namun tidak bermanfaat ” Singgungnya

” Misalnya, yang nyata, Proyek revitalisasi Desa Tanjung Kurung Kecamatan Abab Rp 40 Miliar, Proyek Danau di Desa Kerta Dewa, Bahkan ada jembatan, yang sudah menghabiskan APBD PALI Rp 26 Miliar. Semua itu tidak manfaat dan tidan berfungsi ” Terang Aprizal.

” Ada lagi pembangunan gedung DPRD mangkrak, gedung kantor Capil tidak difungsikan, Rumah sakit mangkrak, semua nya boleh kita lihat ” Tambah Aprizal.

” Belum lagi akses jalan utama Desa Tempirai Kecamatan Penukal Utara, akses ke desa Air Itam Kecamatan Penukal, ke Desa Betung Abab Kecamatan Abab, diakses jalan wilayah Kecamatan Tanah Abang, Itu kan jalan lama, milik Kabupaten PALI, warisan ketika masih bergabung dengan Kabupaten Muara Enim. Namun kondisinya saat ini sudah sangat memprihatinkan ” Tutur Aprizal.

” Lantas infrastruktur apa yang dimaksud Bupati Kabupaten PALI itu ” Aprizal kembali mempertanyakan.

” Kantor Pemerintahan sendiri itu atau kantor Bupati sendiri itu penting, itu backround daerah, asset milik daerah. Tidak ada alasan untuk meremehkan untuk tidak membangunnya ” Kata Aprizal

” Pernyataan itu menurut saya, cuma pembodohan masyarakat PALI, Pemimpinnya memang tidak ada niat membangun perkantoran Pemerintahan sendiri, lantaran lebih suka ngontrak, ngontrak kan dianggarkan di APBD, mungkin banyak saldonya ” Sindir Aprizal.

” Memang ada dugaan kuat perencanaan di Kabupaten PALI itu sangat buruk, yang ada, Pemerintahnya lebih utama membangun inftrastruktur yang tidak bermanfaat daripada membangun kantor sendiri ” Ujar Aprizal.

” Sebuah pernyataan yang memalukan bagi seorang pemimpin Kabupaten, idealnya Pemimpin itu memiliki perencanaan yang skala prioritas yang bisa jadi kebanggaan ” Kata Aprizal.

” Seharusnya dengan APBD yang sangat besar, Pemimpinnya bisa melaksanakan pembangunan infrastruktur jalan,sekaligus bisa membangun infrastruktur perkantoran ” Ujarnya.

Buktinya lanjut Aprizal, di daerah lain, bahkan ada Kabupaten yang berumur lebih muda dari Kabupaten PALI, mampu membangun kantor Pemerintahan sendiri dan juga pembangunan infrastruktur jalan, dan lain lain juga berlangsung.

Namun di Kabupaten PALI, selaku didengung dengungkan seakan akan semua pembangunan pro rakyat, namun faktanya banyak pembangunan yang bukan atas dasar kebutuhan dan usul masyarakat, melainkan terkesan ada kesewenangan wenangan penguasa untuk menentukan pembangunan kehendak sendiri.

” Kalimat klasik yang selalu dilontarkan, untuk apa kita bangun kantor Bupati kalau rakyat mau ketemu Bupati susah, karena jalan masih jahat, masyarakat becek becekan berlumpur datang ke kantor Bupati, pakaian kotor, kita utamakan dulu bangun jalan. Alasan ini pantas diucapkan untuk anak anak kelas 1 SD, ” Aprizal menuturkan.

” Menurut saya infrastruktur proyek proyek yang banyak dilaksanakan di Kabupaten PALI memang terindikasi lebih prioritas proyek proyek infrastruktur yang bisa mendapatkan keuntungan yang besar, karena mudah mempermainannya, bukan karena kepentingan masyarakat PALI, ” Ujar Aprizal.

” Sedang membangun kantor, butuh lahan luas, agak rumit pengerjaannya, keuntungan proyeknya mungkin tidak terlalu besar dibandingkan infrastruktur lain, beresiko ambruk kalau kwalitasnya jelek ” Jelas Aprizal.

” Ada lagi persepsi lain, membangun kantor itu cuma sekali yang bisa dinikmati oleh pemimpin lain juga nantinya. Kalau proyek jalan bisa berkali – kali menganggarkannya, bangun rehab, bangun rehab, begitulah seterusnya ” Kata Aprizal.

” Pendapat saya, Pemimpin PALI yang tidak mau membangun kantor pemerintahan sendiri  itu banyak indikasinya, atau bisa juga disinyalir, pemimpin itu memang pemimpin jahat hati yang tidak memiliki rasa malu’ Pungkas Aprizal.

Sebelumnya diberitakan, walaupun sudah memasuki usia ke-9 kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) berdiri tetapi belum ada perkantoran pemerintahan memang sengaja dilakukan pemerintah kabupaten PALI karena mengedepankan pembangunan infrastruktur publik.

Keterangan itu disampaikan Bupati PALI H Heri Amalindo dihadapan tim verifikasi Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan dan Satya lencana Wira Karya, Rabu (13/04/2022).

“Bukan kami tidak mau membangun perkantoran, tapi percuma kalau jalan masih rusak, rumah sakit masih buruk, pendidikan masih tertinggal dan perputaran ekonomi masyarakat masih terhambat,” ujar Bupati.

Dengan telah dibangunnya infrastruktur publik, seperti jalan, rumah sakit, sekolah-sekolah dan Polres, Bupati menyatakan akses masyarakat lancar, karena hampir seluruh jalan-jalan yang ada di PALI sudah bisa dilalui

” Alhamdulillah berkat dukungan semua elemen masyarakat, aktivitas warga lancar, perekonomian, pelayanan kesehatan, pendidikan meningkat, serta kondisi keamanan kondusif,” terangnya.

Diceritakan Bupati bahwa sebelum capaian yang telah dilakukan pemerintah kabupaten PALI, ketika dirinya dipanggil gubernur Sumatera Selatan tahun 2013 saat itu masih H Alex Noerdin, dimana dirinya ditunjuk sebagai Penjabat Bupati PALI, mendengar nama PALI saja sudah takut

Pasalnya, saat masuk PALI jalan-jalan rusak, lampu jalan tidak ada, rumah sakit buruk, pendidikan sangat jauh dari kata layak dan hampir setiap hari ada kejadian pembegalan.

Pernah ada warga yang menggendong bayi yang sakit menuju rumah sakit tidak tertolong lagi karena akses jalan buruk, sehingga jarak tempuh lama. Keamanan cukup rawan, pembegalan hampir tiap hari terjadi. Tapi Alhamdulillah saat ini setelah dibangun jalannya, dibangun rumah sakit dan polres kejadian itu menjadi cerita masa lalu bagi masyarakat PALI,” kenangnya (@)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *