Tekan Laka dan Hindari Debu, Jalan Negara Dihalang Batang Pisang

Musi Banyuasin,medianusantaranews.com- Kerusakan badan jalan negara jurusan Betung-Sekayu tepat diwilayah kampung Ekabakti Desa Teluk Kijing 3 Kecamatan Lais Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan bertahun-tahun tidak pernah ada baiknya. Untuk menekan angka kecelakaan bagi pengguna jalan, maka oleh warga setempat dipasang rambu dengan cara ditumpuk batang pisang.

Tujuan lain dengan rambu sedemikian itu, selain menekan lakalalin juga untuk mengurangi tebaran debu saat dilintasi kendaraan. “Oleh warga dipasang rambu semacam itu bertujuan untuk menekan angka lakalalin juga untuk mengurangi debu beterbangan masuk dalam rumah warga”, ujar Niru bukan nama aslinya saat berbincang dengan wartawan Rabu (15/6/2022).

Niru menambahkan, sebenarnya kami warga ini memprotes pada pemerintah yang di Jakarta yang ada di Balai Besar di Palembang, sebab kerusakan jalan itu sudah lama dan dilakukan perbaikan dengan digali-gali yang kemudian cuma ditimbun pasir dengan batu kecil saja.

Sedangkan jalan negara itu dilintasi berbagai jenis kendaraan 24 jam terus-menerus, sehingga tidak ada bagusnya dan yang terkena imbas debunya rumah warga disekitar kerusakan jalan itu, tegas Niru dengan nada kesal.

Pemasangan rambu dengan alakadarnya itu didukung pengemudi truk ekspidisi sebut saja Bejo (47) yang mengaku asal Betung Banyuasin. Kata Dia, dengan ada rambu semacam itu tentunya para sopir kendaraan apapun jenisnya tiba dilokasi itu pasti mengurangi kecepatannya.

Tentunya lanjut Bejo, agar pihak terkait terbuka mata hatinya dan bagi pekerja kontraktor jalan itu kerjanya yang serius, jangan asal digali dan ditimbun begitu saja tanpa memikirkan dampak yang dirasakan oleh pengguna jalan maupun warga disekitar proyek yang terkena imbas debu, ucap mantan kuli bangunan yang kini berubah profesi ini.

Hal serupa diungkapkan Novian (51) karyawan swasta di wilayah Kecamatan Lais mengaku heran, cara kerjanya dari kontraktor perbaikan jalan negara tidak profesional dan terkesan hanya mencari keuntungan saja.

Padahal kerusakan jalan itu sudah lama kok perbaikanya asal-asalan, sedangkan itu jalan negara yang dilintasi berbagai jenis kendaraan, mestinya yang kwalitas pengerjaanya yang handal. “Jangan pagi diperbaiki sore sudah rusak kembali dan menimbulkan penyakit lagi bagi warga disekitar lokasi proyek, itu namanya pekerja yang menegemenya koplak”, ucap mantan konsultan tahun 90 an.

Wajar jika warga disekitar lokasi proyek memprotes dengan memasang rambu dengan batang pisang ditaruh ditengah badan jalan, itu bertujuan selain hindari angka kecelakaan juga mengurangi debu berhamburan saat dilintasi kendaraan.

Diharap segera dilakukan perbaikan dan diaspal agar tidak benyak pengguna jalan yang jadi korban dan warga disekitar lokasi kerusakan jalan tidak kena imbas debu yang beterbangan sampai masuk kedalam rumah dan untungnya malam ini lampu jalan tidak padam, jadi kelihatan kalau kondisi jalan yang rusak itu,tutupnya.

Hingga berita ditayangkan di media ini dari pihak Balai Besar di Palembang maupun para pekerja kontraktor dijalan itu belum ada yang diminta keterangan seperti yang dipersoalkan warga sekitar.(MNN).

Editor waluyo.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *