Waykanan – medianusantaranews.com
Bupati Way Kanan, Ayu Asalasiyah, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Taman Kerukunan Ekoteologi yang menggabungkan penguatan kerukunan antarumat beragama dengan kepedulian terhadap kelestarian alam. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya konkret yang menyatukan nilai luhur keagamaan, harmoni sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup.
Apresiasi itu disampaikan saat Bupati Ayu Asalasiyah bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, melakukan penanaman pohon, peletakan batu pertama pembangunan Taman Kerukunan dan Masjid Baitul Ilmi, serta meluncurkan Taman Kerukunan Ekoteologi di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerukunan antarumat beragama, meningkatkan edukasi keagamaan, serta menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.
Bupati Ayu Asalasiyah menegaskan bahwa penggabungan nilai toleransi dan kepedulian terhadap alam bukanlah hal yang terpisah, melainkan bersumber dari ajaran yang sama: kasih sayang.
“Tidak ada satu pun ajaran agama yang mengajarkan untuk merusak lingkungan. Sebaliknya, setiap agama mengajarkan kasih sayang dan kepedulian, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam semesta,” ujar Bupati Ayu.
Ia menilai Taman Kerukunan Ekoteologi menjadi model pembelajaran yang sangat tepat bagi sekolah, madrasah, instansi pemerintah, hingga masyarakat luas. Di tempat ini, generasi muda dapat belajar sekaligus mempraktikkan dua hal penting sekaligus: menghormati perbedaan dan merawat bumi.
“Saya berharap Taman Kerukunan Ekoteologi dapat menjadi ruang pembelajaran nyata bagi generasi muda untuk mengenal keberagaman sekaligus mencintai lingkungan. Melalui pengalaman langsung, nilai-nilai tersebut akan lebih melekat dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Bupati Ayu juga mengingatkan bahwa keberhasilan taman ini tidak terletak pada kemegahan bangunan atau fasilitasnya, melainkan pada kesadaran dan komitmen bersama untuk merawatnya secara berkelanjutan.
“Manfaat pembangunan taman ini tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fisiknya, tetapi oleh komitmen kita semua untuk menjaga, merawat, dan memanfaatkannya dengan baik. Saya berharap nilai-nilai yang ada di dalamnya dipahami dan diamalkan oleh seluruh ASN maupun masyarakat di Kabupaten Way Kanan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, menyambut baik dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Way Kanan. Ia menjelaskan bahwa konsep ekoteologi mengajak masyarakat memahami keterkaitan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
“Kerukunan dibangun dari sikap saling mengenal, memahami, dan menghormati perbedaan. Menanam pohon pun bukan sekadar menghijaukan bumi, melainkan wujud nyata tanggung jawab kita kepada Tuhan, sesama, dan alam. Anak-anak perlu dikenalkan pada cinta terhadap sesama dan cinta terhadap lingkungan sejak dini,” kata Zulkarnain.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan, Masir Ibrahim, menyatakan bahwa kegiatan ini tidak dimaksudkan sekadar seremonial, melainkan langkah nyata menciptakan suasana rukun yang berkelanjutan. Pengembangan taman ini melibatkan kolaborasi lintas instansi, termasuk Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perkebunan, serta Forum Kerukunan Umat Beragama(FKUB).
“Kami tidak ingin kegiatan ini ditinggalkan setelah acara selesai. Di tengah segala keterbatasan, kami tetap berkomitmen menciptakan ruang yang rukun, damai, dan hijau bagi seluruh masyarakat Way Kanan,” ujar Masir.
Dengan semangat kebersamaan, Taman Kerukunan Ekoteologi diharapkan terus tumbuh menjadi ruang terbuka yang menghadirkan miniatur rumah ibadah berbagai agama, sarana edukasi, serta tempat berkumpul yang damai. Melalui sinergi pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat, nilai toleransi, kasih sayang, serta cinta lingkungan diharapkan semakin mewujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kabupaten Way Kanan.(MNN IMAM HADI).








