Demi Kemanusiaan, Walau Harus Berlumpur, Belum Tentu Jadi PNS?

Banyuasin,medianusantaranews.com- Tidak mau menghilangkan begitu saja ilmu dan ketrampilan yang sudah didapatkannya, itu pengakuan 2 orang sedang terjebak diruas jalan Berlumpur dari tenaga medis dan guru status masih honorer disalah satu daerah pedalaman wilayah Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan.

“Hujan harus rela berlumpur jika datang kemarau harus rela bergelut dengan debu, itu semua dilakukan demi kemanusiaan saja, walau belum tentu bisa diangkat menjadi CPNS/PNS”, ucap Diah dan Santie kepada wartawan saat dibincangi diruas jalan yang sedang berlumpur (3/11/2018) beberapa saat yang lalu.

Kedua honorer yang meminta disamarkan namanya itu saat melakukan perjalanan darat dari primer 2 menuju primer 3 Kecamatan Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin tempatnya bertugas yang dilakukan selama lebih 5 tahun yang lalu.

” Jangan ditanya berapa nominal honor yang kami terima, tetapi doakan saja kami masih bisa mengabdi ilmu dan ketrampilan yang kami dapat dan bantulah jalan kami untuk pulang dan pergi bekerja ini tidak licin dan berlumpur jika ada hujan dan tidak berdebu lagi walau kemarau tiba, itu sudah cukup jadi kebanggaan kami pak”, imbuhnya sembari tarik nafasnya ngos-ngosan mendorong sepeda motor.

Diah mengaku saat ini usianya sudah hampir 40 tahun dan menjadi guru honor sejak tahun 2005 hingga selesai S1 UT PGSD tahun 2011 hingga sekarang, maka kalau bapak bertanya berapa besar honornya kami nggak mau jawab pak yang penting harga sawit bisa sampai Rp 1000,- lagi perkilo dan jalan lintas kami bisa lancar tidak berlumpur dan berdebu saja, kami tidak mikirkan honornya pak, jawabnya lagi.

Hal senada diungkapkan Santie, namanya hidup perlu perjuangkan, kalau harapan kami bisa jadi PNS, tapi semua yang Kuasa yang menentukannya, kami lakukan ini karena semata-mata demi kemanusiaan, sebab daerah kami sangat jauh dari pelayanan medis yang serba ada, dengan keterbatasan sarana ini maka kami selalu bersosialisasi kemasyarakat bagaimana agar hidup sehat sesuai pepatah “Mencegah lebih baik dari pada mengobati” dan masalah honor kami malu mengatakannya, sambung Bides yang bertugas di primer 3 Kecamatan Pulau Rimau.

Terpisah, dalam komentarnya Yanto warga Primer 2 saat dibincangi wartawan mengatakan sebagai warga diwilayah pedalaman semacam ini sudah menjadi kebiasaan kalau bertemu jalan licin bahkan berlumpur dan panas berdebu, namun sudah tidak menjadikan kendala dalam menjalankan tugasnya.

Kalau kedua orang wanita itu juga sebagai tenaga honorer dilingkungan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan menghadapi kondisi alam semacam itu “sudah biasa”, bapak saja yang heran melihatnya, tetapi kalau masyarakat disini sudah tidak kaget lagi.

“Masalah pakaian tadinya putih berubah warna kekuningan itu sudah sejak dulu disini, warna hitam jadi kekuningan juga sejak lama dan sepatu dinas menggunakan sepatu boots pun sudah lumrah di daerah sini, namanya saja masih dipedalaman, sembari berdoa semoga perjuangan mereka menemukan yang diharapkan, karena tenaga honorer lebih aktif kerjanya dari pada yang sudah PNS”, katanya jujur.(waluyo)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *