Oleh Dr. Yunada Arpan, SE., MM
Dosen STIE Gentiaras Lampung
Medianusantaranews.com–Peranan kaum perempuan dalam pembangunan semakin terlihat meskipun masih belum maksimal meskipun kemampuan dan kesempatan mereka untuk terlibat dalam berbagai ranah publik kian terlihat.
Tidak hanya di Indonesia, hingga saat ini kiprah perempuan di berbagai belahan dunia khususnya tenaga kerja profesional perempuan yang bekerja di dunia industri masih rendah. Penelitian Unesco 2015 menunjukkan rendahnya tingkat partisipasi pekerja perempuan di bidang industri terpaut jauh dibandingkan dengan pekerja pria.
Perkembangan globalisasi yang begitu cepat tanpa batas ruang dan waktu tentu berpengaruh terhadap perubahan teknologi gaya hidup sosial dan budaya yang terjadi di tengah masyarakat dunia.
Kondisi ini sebenarnya merupakan suatu tantangan dan juga kesempatan bagi kaum perempuan untuk berkiprah dalam peradaban dunia ketika perempuan bisa mengisi sektor-sektor yang selama ini ruang tersebut belum sempat tergarap secara maksimal. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 hanya ada 30 persen pekerja perempuan di bidang industri khususnya Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM).
Hari ini kita dihadapkan pada era Revolusi Industri 4.0 merupakan revolusi industri ke-empat yang diwarnai kecerdasan buatan ke arah ekonomi digital dan teknologi yang membuat industri STEM memiliki prospek yang menjanjikan.
equality in diversity Ada beberapa tantangan bagi kaum perempuan dalam menghadapi baik itu yang namanya globalisasi, era milenial ataupun yang sekarang kita hadapi yakni era revolusi industri 4.0. Beberapa tantangan yang muncul itu diantara kaum perempuan itu cenderung kurang memiliki rasa percaya diri atau dapat diartikan kurang berani memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk meningkatkan dan memunculkan potensi yang ada pada diri mereka agar lebih kreatif dan muncul diwilayah publik.
Kondisi ini bisa terjadi karena ditengah masyarakat kita masih adanya kebiasaan atau kultur, keadaan dimana dikungkung oleh nilai-nilai budaya maupun tradisi baik keluarga dan masyarakat itu sendiri sehingga kurang kreatif. Padahal sebenarnya kaum perempuan memiliki potensi dan kemampuan berkreasi untuk lebih berperan dan berkembang menghadapi dinamika perubahan yang sangat cepat.
Pada saat yang sama, secara umum kita melihat hampir di semua lembaga belum memberikan dukungan secara maksimal kepada kaum perempuan karena menganggap perempuan itu lemah, kurang mampu untuk bisa lebih memegang peranan yang selama ini dipegang oleh kaum pria.
Tidak heran jika perempuan hanya bisa terbatas menduduki posisi-posisi tertentu saja dalam suatu lembaga. Rendahnya tingkat partisipasi kerja perempuan di bidang itu karena memang ada suatu persepsi dari lingkungan khususnya di bidang industri bahwa perempuan itu belum bisa diandalkan. Kenyataannya memang tingkat pendidikan yang terkait dengan sains dan industri serta matematika oleh perempuan memang belum sebanyak laki-laki. Di Amerika Serikat, perempuan hanya 35% yang mendapatkan gelar sarjana bidang STEM, tetapi dalam minoritas itu data sensus menunjukkan hanya satu dari tujuh perempuan yang memiliki gelar STEM yang benar-benar bekerja sesuai latar belakang pendidikannya.
Dalam moment memperingati hari Kartini ini hendaknya perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam mewujudkan cita-cita bangsa secara bersama-sama dalam berbagai bidang baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Kaum perempuan harus mampu berperan tidak hanya sebagai pengguna dari hasil pembangunan tetapi ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Penyetaraan gender yang sudah dimulai oleh R.A Kartini pada tahun 1879 sebagai pelopor gerakan kesamaan hak kaum perempuan atas kaum pria terutama dalam mengenyam pendidikan akan muncul apabila kaum perempuan diberi ruang yang luas sehingga bisa berpartisipasi dalam segala aspek pembangunan.
Vandana Shiva seorang aktifis dari India mengemukakan pentingnya mewujudkan persamaan dan keragaman (equality in diversity) yaitu sebuah konsep dimana perempuan tetap memerankan kualitas feminin yang baik. Bahwa kualitas pengasuhan, pemeliharaan dan cinta adalah fitrah perempuan dimana ia berhak untuk mengaktualisasikan dimanapun ia berada termasuk apabila ia berada di dunia publik (maskulin).
Artinya perempuan diberi kesempatan oleh semua pihak bahwa kita harus menegakkan prinsip-prinsip kesetaraan yang mencerminkan prinsip kesamaan kaum perempuan untuk berpartisipasi dan berperan aktif dalam proses pembangunan secara lebih kreatif untuk membangun peradaban dan hubungan baik pada tingkat lokal regional dan internasional.
Kita patut berbangga hati melihat perempuan Indonesia semakin maju dan tampil sama dengan perempuan di negara lain. Sudah cukup banyak perempuan telah menduduki posisi penting di berbagai bidang termasuk menduduki jabatan publik seperti bupati, wakil bupati, wakil gubernur, ketua DPRD, Kapolres dan jabatan publik lainnya hingga menteri dan presiden.
Keunggulan perempuan dalam menduduki posisi penting mendapat pengakuan oleh Marie C. Wilson: “The core what woman bring to leadership- a tendency toward inclusiveness, emphaty, communication up and down hierarchis, focus on broader issues and reacher bussiness” . Hal ini semakin dikuatkan pula oleh Thomas J. Reters mengatakan : “woman as more relational, less conscious of hierarchy, better listener and more able to avoid the agression men can sometimes bring to management” (https://mazdalifahjalil.org)
Itu bermakna perempuan memiliki kesempatan meraih pekerjaan untuk meningkatkan karir mereka terutama dalam menghadapi revolusi industri. Membangun kekuatan untuk meningkatkan kehidupan, kesehatan, keselamatan, dan keterhubungan untuk semua orang ketika dunia digital terus berkembang.
Keberlangsungan emansipasi dan kesetaraan gender bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dan tidak melupakan kodrat dan tugas seorang perempuan itu sendiri sebagai anak, pemudi, istri ataupun sebagai ibu untuk bisa berkiprah lebih jauh dalam ranah publik sehingga akan bermanfaat bagi keluarganya masyarakat bangsa dan negara.
Inklusif dan Inovatif
Sosok perempuan harus berusaha melakukan inovasi dan menggali kreativitas dengan cara mampu mengimbangi kemajuan teknologi dan manfaatkan berbagai perkembangan teknologi informasi untuk diwujudkan dalam bentuk peluang melakukan perubahan-perubahan dalam meraih masa depan yang kian beragam. Terus maju, mandiri, memiliki rasa percaya diri dan selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas diri berperan dalam segala segi kehidupan.
Perempuan dituntut bisa aktif terlibat dan harus tahu masalah yang dihadapi terutama ketika industri menyajikan peluang dan tantangan untuk memberdayakan perempuan dan memperluas kesetaraan. Kesetaraan gender melihat perempuan sebagai produsen dan pencipta, sebagai penjaga budaya, pengambil keputusan politik dan juga sebagai makhluk spiritual. Seorang perempuan adalah seorang yang penuh kasih sayang, cerdas, penyabar, berjiwa keibuan, berani dan mau bekerja keras. Itulah mengapa seorang perempuan mempunyai peran yang besar dalam menghadapi era milenial (era kekinian).
Beberapa langkah yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh kaum perempuan dalam menghadapi revolusi industri ini: Pertama tentu mereka harus semakin meningkatkan rasa percaya diri bahwa mereka bisa dan berani untuk tampil di dalam ranah publik, mampu mengaktualisasikan diri tanpa ragu berkompetisi terutama dalam penguasaan STEM. Dengan kekuatan-kekuatan yang ada mulai dari mengenali potensi diri, kemauan diri, melatih diri, membangun diri hingga mengkaryakan diri menjadi seseorang yang ahli di bidangnya untuk kemudian menjawab tantangan zaman yang hari ini tengah kita hadapi.
Kedua harus berani dan aktif untuk tampil menyuarakan serta memperjuangkan hak-hak kaum perempuan ketika muncul perlakuan rasa ketidakadilan yang menimpa mereka dengan memanfaatkan organisasi-organisasi yang intens menyuarakan kesetaraan gender dan perlindungan terhadap kaum perempuan. Upaya lainnya adalah kesungguhan berbagai lembaga dan stake holder agar terus mendorong dan memberikan kesempatan kepada kaum perempuan bahwa mereka memiliki kemampuan (kompetensi) untuk meningkatkan kualitas dirinya.
Disamping itu pemerintah selaku regulator harus berpihak untuk memacu perkembangan kesetaraan gender secara realistik. Perlu adanya perbaikan melalui peningkatan hubungan yang terbuka antar lembaga dengan memposisikan perempuan sebagai bagian penting dan mitra kerja. Caranya dengan meningkatkan dan menciptakan suasana yang kondusif dengan cara menghormati hak dan kewajiban setiap perempuan secara objektif. Menekankan kerjasama yang kondusif secara vertikal maupun horizontal sehingga memberikan umpan balik secara kontinyu untuk pengembangan diri para kaum perempuan.
Disisi lain, meskipun tidak semua perempuan mempunyai kesempatan yang sama dalam dunia kerja dan lebih memilih fokus mengurus anak, keluarga dan rumah tangga tetapi tetap bisa berkiprah lebih positif dan kreatif dalam bentuk meningkatkan dan membentengi diri mereka dengan nilai-nilai luhur dengan lebih mendekatkan nilai-nilai religi dan budaya. Karena bagaimanapun perempuan adalah yang paling dekat dengan anak dan keluarga sehingga menjadi tauladan bagi anak-anaknya untuk mempersiapkan calon generasi penerus yang nanti akan melanjutkan revolusi industri berikutnya melalui integrasi sistem fisik dan digital serta kemajuan dalam kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin.
Kita harus meningkatkan upaya kolektif untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong lebih banyak anak perempuan untuk melanjutkan studi dibidang STEM sebab dalam masa transisi ke revolusi Industri 4.0 yang berbasis pengetahuan ini maka bagi negara yang menerapkan kebijakan inklusif dan inovatif tentu akan mengalami lompatan maju dan mencapai kinerja yang luar biasa. @ Selamat Hari Kartini.








