Mengenal Kerajaan Sekala Brak Sebagai Asal Usul Ulun Lampung

Lampung Barat,Medianusantaranews.com – Perlu kita ketahui bersama bahwa, Kerajaan Skala Brak sampai pada saat ini dipercaya sebagai salah satu asal usul ulun Lampung (orang Lampung). Kerajaan ini memiliki banyak penyebutan, ada sebagian menyebutnya “Sekala Bekhak”, “Sakala Bhra”, “Sekala Beghak”, atau “Segara Brak”.

Meskipun demikian, semua penyebutan tersebut merujuk ke sebuah masyarakat yang didirikan Suku Tumi pada abad ke-3 Masehi yang berpusat tepatnya di lereng Gunung Pesagi, dekat Danau Ranau, Lampung Barat.

Skala Brak kemudian menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran way (sungai), dari Way Komering, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung, dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya. Hal ini membuat komunitas ini menyebara hingga ke Palembang, bahkan Pantai Banten.

Pada awalnya, kerajaan Skala Brak dan masyarakat Suku Tumi menganut ajaran nenek moyang sebelum berinteraksi dan akhirnya menjadi penganut agama Hindu yang masuk ke Lampung sejak abad ke-1 Masehi. Kerajaan ini bertahan sangat lama hingga pada abad ke-16. Di masa itu, datanglah empat Pangeran dari Paguruyung yang ingin menyebarkan agama Islam.

Empat Pangeran tersebut berhasil menggulingkan Ratu Sekerumong, penguasa terakhir dari Kerajaan Skala Brak, dan mengganti konsep kerajaan Hindu dengan pemerintahan Islam yang disebut dengan Kepaksian.

Selanjutnya, wilayah Kerajaan Skala Brak dibagi menjadi empat Kepaksian sesuai dengan jumlah pangeran yang menggulingkan penguasa terakhir dari Kerajaan Skala Brak (Ratu Sekerumong) , yaitu Umpu Bejalan, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong. Setiap Kepaksian memiliki wilayah, rakyat, dan adat istiadatnya sendiri. Namun demikian, mereka mempunyai kedudukan yang sama antar satu Umpu dengan Umpu lainnya.

Selain itu, pada masa Kerajaan Skala Brak, suku Tumi mempunyai sebuah pohon yang disucikan yaitu Belasa Kepampang. Pohon ini mempunyai dua cabang yang mengandung getah dan saling berkaitan, Cabang Nangka dan Cabang Sebukau.

Jika ada seseorang yang terkena getah Cabang Sebukau dan terkena penyakit kulit, maka obatnya adalah getah dari Cabang Nangka. Inilah yang menjadikan Belasa Kepampang disucikan dan dikeramatkan oleh suku Tumi.

Namun saat Kepaksian Skala Brak mulai berkuasa, pohon tersebut ditebang. Kayu Belasa Kepampang kemudian dibuat menjadi singgasana atau Pepadun. Selanjutnya, atas kesepakatan keempat Kepaksian, Pepadun ini disimpan dan dikeluarkan setiap ada acara penobatan pemimpin dari masing-masing Kepaksian.( Rodi MNN )




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *