Medianusantaranews.com, (Banyuasin)- Terkait vitalnya dari Dua berita yang menyangkut dunia pendidikan di Negara kita saat ini menjadi perbincangan yang pada intinya dari kejadian itu sangatlah memilukan, Pasalnya, ada seorang siswa diwilayah Provinsi Sumatera Barat telah memutuskan niatnya untuk berhenti sekolah, setelah Pemerintah memberlakukan sistem pendidikan dengan belajar jarak jauh (daring), karena tidak mampu lagi membeli pulsa internet untuk mengikuti proses belajar mengajar sistem jarak jauh atau daring, sedangkan di Kabupaten Purwakarta Jawa Barat ada beritanya Kepala Sekolah tewas setelah dikeroyok massa diduga berselingkuh dengan wanita yang masih berstatus sebagai istri orang.
Menyikapi dua berita dari Sumbar dan Jabar itu menjadi problema bagi masyarakat dalam Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan seperti yang dijelaskan Syamsuri HAJ seorang Tokoh Masyarakat yang dikenal di Kabupaten Banyuasin. Dirinya juga sebagai mantan anggota DPRD mengaku sangat prihatin dengan sistem Pendidikan Nasional di Negara kita saat ini setelah satu tahun diwabah Pandemi Covid-19.
Menurutnya semenjak Negara kita oleh Pemerintah ditetapkan terdampak covid, kehidupan sosial dan ekonomi didalam masyarakat pun berubah, karena jumlah warga miskin bertambah yang disebut Miskin Baru (Misbar). Warga dianjurkan diam didalam rumahnya yang hidupnya dibiayai oleh Pemerintah berupa uang tunai senilai Rp 600 ribu setiap bulan selama tiga bulan untuk satu Kepala Rumah Tangga, juga ada menerima sembako dan lain sebagainya.
Terkait hal tersebut lanjut Syamsuri juga berimbas pada sistem Pendidikan Nasional di Negara kita bagi murid dari kalangan keluarga miskin memutuskan untuk berhenti sekolah yang efeknya berimbas pada sebagian pendidiknya ada yang memanfaatkan waktunya untuk melakukan kegiatan diluar nalar normal.
Lanjut dia kedua persoalan itu tentu jadi perhatian banyak pihak khususnya bagi orang tua wali murid tak luput bagi wali murid di Kabupaten Banyuasin, jika Pemerintah tak cepat mencari solusinya, negara ini tidak lagi memiliki generasi yang punya jiwa pemimpin yang baik bahkan negara ini bisa hancur.
Untuk itu dirinya berharap kepada pihak Kementrian Pendidikan segera mencari langkah cepat kembalikan proses belajar mengajar dengan pola bertatap muka seperti sebelum ada covid dan langkah itu tentu akan mendapatkan dukungan banyak pihak khususnya bagi orang tua murid, tutupnya.
Terpisah, Bahauddin (70) salah satu tokoh intelektual juga dari Banyuasin yang sempat berbincang dengan awak media ini mengungkapkan dirinya mengaku sangat-sangat prihatin dengan Sisdiknas dinegara kita saat ini.
Mantan guru yang lebih 30 tahun dirinya mengajar ini juga menilai Sisdiknas saat ini dinegara kita sedang mengalami kemunduran 1000 langkah kebelakang, jika terus sistemnya begini, 20 tahun lagi generasi bangsa kita menjadi generasi yang kehilangan jatidirinya.
Para Gurunya tidak tau wajah muridnya, demikian juga sebaliknya, dilihat dari sisi ini saja kami yang mantan pendidik sudah bisa menilai bahwa para pendidik sendiri kerjanya pasti akan ngawur, walau jadwal proses belajar mengajar tetap berlangsung, tapi hasilnya tidak memiliki kwalitas yang baik, ungkapnya.
Jujur, saya pribadi prihatin sampai ada siswa terang-terangan datang kesekolah bukan mau belajar melainkan pamitan untuk berhenti sekolah, itu karena tidak mampu lagi membeli kuota dan lebih miris lagi dampak dari tak ada belajar bertatap muka seperti sebelum ada covid terjadi perbuatan diluar nalar yang dilakukan oleh Guru yang seyogiyanya dapat ditiru dan digugu prilakunya itu yang dimassa sampai mati akibat ulah berselingkuh sesama guru, ucapnya malu.
Wak Udin yang akraf disapa dikalangan masyarakat dalam Kabupaten Banyuasin itu mengaku ketar-ketir melihat perilaku para pelajar saat ini, semakin maju dunia pendidikanya tetapi semakin mundur keberadapanya dan lebih prihatinnya lagi para pelajar Lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sampai tidak paham dengan butir-butir dari 5 sila dalam Pancasila, jadi apalagi yang akan diharapkan pada masa depan mereka nanti untuk bangsa dan negara ini, pungkasnya dengan nada kecewa.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan dari Pemkab Banyuasin Aminuddin hingga berita ini ditayangkan belum diminta komentarnya terkait dengan viralnya dua berita yang membuat dunia pendidikan di Indonesia tercoreng akibat efek dari Sisdiknas belajar jarak jauh.(MNN/waluyo)








