Petambak Udang Bumi Depasena Mengeluh, Selain Serangan Penyakit, Harga Udang Anjlok

Tulang Bawang, medianusantaranews.com- “Sudah jatuh tertimpa tangga” peribahasa tepat disandang para petani tambah udang di Bumi Depasena Mesuji Timur saat ini, Pasalnya, maraknya serangan hama penyakit udang ditambah naiknya seluruh harga biaya produksi dan miris lagi dengan harga jual udang cendrung menurun, bahkan terancam bangkrut.

Bumi Dipasena Kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung yang merupakan andalan pemasok udang di Provinsi Lampung bahkan sampai manca negara, tapi dalam setahun terakhir ini usaha tambah terus mengalami kemerosotan, ucap Ngasim kepada wartawan.

Ngasim, petambak udang yang juga jual berbagai merk pakan udang dan obat-obatan di wilayah 61 Kampung Bumi Dipasena Jaya, Minggu (12/06/2022) mengatakan bahwa ada enam petak tambak miliknya, tiga hari lalu terpaksa dikeringkan, karena terserang penyakit, ia tebar benur 215 ribu ekor, pada umur hanya 45 hari dikuras, modal habis 50 juta lebih.

Menurut Ngasim, imbas dari serangan hama penyakit udang yang melanda areal pertambakan Dipasena ini juga berimbas terhadap omset usaha penjualan benur, pakan dan obat-obatan juga terjun bebas, beliau menambahkan kalau setahun lalu 100 sak pakan lebih terjual dalam sehari, saat ini baling banyak 10 sak/hari.

“Enam petak tambak udang, tiga hari lalu dikuras, kena hama penyakit, udangnya banyak yang mati, baru umur 45 hari, rugi, modal saja tak balik, apalagi mau untung,” kata Ngasim.

Sementara itu pengurus Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah Lampung (3UWL) Bidang Budidaya, Serman, tidak menampik bahwa produksi udang saat ini lagi menurun, akibat serangan hama penyakit, umumnya udang petambak terinfeksi penyakit WSSV, IMNV dan APHND, namun demikian masih tetap ada saja yang panen dengan hasil cukup bagus.

Serman menambahkan, upaya menimalisir serangan hama penyakit, P3UWL terus mengupayaka agar benur yang ditebar bebas virus, pakan bebas bahan kimia, obat-obatan ramah lingkungan dan perbaikan infrastruktur budidaya, seperti mengerukan sedemintasi lumpur pada saluran pasok dan perbaikan pintu-pintu DAM.

“Penyakit udang memang ada, banyak tambak yang kuras, tapi masih ada juga petambak panen normal, kemaren (11/06) ada petambak di Kampung Bumi Sejahtera yang Panen dua petak tambak, umur udang 90 hari, size 50, dengan tonase 1,7 ton.” Kata Serman.

Di tempat terpisah Kepala Bidang Pengembangan Usaha Perikanan Budidaya, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Ari Suharso, mengatakan bahwa kondisi usaha budidaya udang yg terjadi di dipasena merupakan gambaran umum wajah perikanan Budidaya di indonesia.

Menurut Ari suharso saat ini sudah seharusnya semua stakeholder duduk bersama untuk menciptakan sistemm usaha budidaya yang benar-benar terintegrasi dari hulu hingga hilir, penyakit udang itu salah satu masalah dari banyak masalah yang dihadapi oleh petambak.

Kita tidak bisa hanya fokus pada sertifikasi , semua harus duduk bareng mencari solusi, mulai dari bagaimana project induk udang lokal bisa di teruskan, pengawasan produk saprotam import, revitalisasi lingkungan pertambakan, sarana, permodalan hingga rantai penjualan hasil produksi” Ujar ari.(MNN/Nofian faiz)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *