Anaim : Desa Wonodadi Masih Berpotensi Sebagai Lahan Pangan

Banyuasin, MNN- Dalam perbincanganya dengan wartawan media ini, mantan Kades, Anaim menjelaskan bahwa Desa Wonodadi Kecamatan Selat Penuguan Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan berpotensi sebagai lahan pangan dan bukan lahan perkebunan seperti yang nyatakan olrh Balai Besar. 

Anaim mengatakan, dalam program SERASI didesanya yang ketika itu diusulkan sesuai lahan pangan yang ada 320 hektar, namun yang direalisasikan hanya 200 hektar dan sisanya dikelola sendiri oleh masyarakat pemiliknya.

Kena apa sampai program serasi yang terakhir ini dibilang para petani mengalami gagal panen itu ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya diantaranya masalah tingkat keasaman dilahan itu nasih tinggi, penyebab lain akibat tidak dilakukan normalisasi Saluran Drainase Umum (SDU), Saluran Primer dan Skundernya.

Kesulitan masyarakat petani di Desa Wonodadi ini untuk memaksimalkan produksi dari pangan lanjut Anaim, soalnya pihak Balai Besar mengklaim bahwa lahan didesa Wonodadi ini sebagai lahan perkebunan, tapi buktinya, program SERASI ada didesanya dan petani pernah sukses yang pertama program itu dan yang musim tanam tahun ini memang gagal total, karena petani tidak memiliki modal dana yang cukup.

Kami mengusulkan ke Dinas PU Kabupaten Banyuasin guna melakukan normalisasi tidak direalisasikan, karena data dari Balai Besar lahan didesa Wonodadi itu sebagai perkebunan dan pihak Dinas PU Kabupaten Banyuasin hanya bersedia menyediakan Eksafatornya saja, untuk operasionalnya diserahkan kepada petani seperti BBM, Operatornya dan lain-lainnya, itu kendala kami didesa ini untuk meningkatkan produksi pangan.

Jika saluran SDU dan saluran Primer sepanjang masing-masing 6 kilometer itu dinornalisasi termasuk saluran Skunder ada 12 batang x 2 kilometer, tentu produksi pangan didesanya bisa meningkat, maka program untuk peningkatan pangan ditahun 2020 ini berusaha mencari terobosan keberbagai sasaran baik melalui Bupati Banyuasin maupun melalui perwakilan rakyat baik dari Banyuasin juga ke Provinsi Sumatera Selatan bila perlu sampai ke Pusat, tegasnya.

Masih kata Anaim, kalau produksi perkebunan itu ada kelapa sawit tetapi volume lahannya cuma sebagai kecil, yang luas ada dilahan pangan untuk persawahan, namun itulah kendalanya sejak transmigasi ini ada belum pernah dilakukan normalisasi baik di saluran SDU, Skunder dan saluran Primernya.

Anaim berharap melalui pemberitaan diberbagai media ini kedepan persoalan lahan pangan didesanya dapat terwujud karena dari 300 kepala keluarga yang ada saat ini sangat bergantung pada usaha pertanian sawah, tutupnya.(waluyo)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *