Banyuasin,medianusantaranews.com- Saat ini masyarakat dalam wilayah Kecamatan Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan ada yang sudah mengaku bisa bernafas lega, walau belum ada sepersen pun yang direalisasikan pengecoran ruas jalan utama yang menghubungkan 29 Desa di dalam dua Kecamatan Pulau Rimau dan Selat Penuguan.
Haryuni (48) warga Kecamatan Selat Penuguan dalam perbincanganya dengan wartawan media ini (26/10/2018) mengaku senang saat melintas diruas jalan pangkal jembatan Tanah Kering Desa Mukut telah rampung dilakukan perbaikan corbeton, walau tak lebih 100 meter saja, tetapi perjalanan kami sekeluarga sudah bisa lancar.
Dikatanya, jalan sepanjang 51 km dari simpang di Desa Lubuk Lancang Kecamatan Suak Tapeh yang menghubungkan Kecamatan Pulau Rimau hingga ujung Desa dalam Kecamatan Selat Penuguan itu memang dibilang belum baik, tetapi yang terparah yang terdapat di pangkal jembatan itu yang paling menyusahkan pengguna jalan, jika datang air laut pasang masih tergenang dengan ketinggian airnya hingga lutut orang dewasa.
Masih kata Dia, dengan selesainya pengecoran, kami sudah tidak terhambat lagi perjalanannya, sebab sebelumnya setiap warga yang melintas untuk sepeda motor sekali lewat bayar Rp 2000 dan mobil Rp 10.000, karena oleh masyarakat sekitar jembatan dibuatkan jalur khusus untuk motor roda dua dengan menggunakan kayu gelam dan batang kelapa untuk kewat mobil, sambung Saryanto juga warga Selat Penuguan.
Walau saat datang musim penghujan pun perjalanan kami masih bisa lancar dan tidak ada pungutan lagi seperti sebelumnya dan mudah-mudahan dengan Bupati dan wakil Bupati Banyuasin yang baru ini masalah jalan diutamakan khususnya dari Kecamatan Suak Tapeh hingga Kecamatan Selat Penuguan, harapnya.
Andaikata perbaikan jalan corbeton ini terus dilanjutkan hingga pangkal jembatan di Tanah Kering ini saja kehidupan ekonomi masyarakat dalam Kecamatan Pulau Rimau dan Kecamatan Selat Penuguan tentu akan lebih baik dan namanya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat tentu terwujud, katanya melebar.
Perlu diketahui komoditi masyarakat didua kecamatan itu selain dari padi sawah juga ada kelapa hibrida bahkan yang terbesar produksi buah kelapa sawit yang setiap harinya mungkin ada 1000 ton harus dipanen, tentu semua ini harus ditunjang dengan sarana transportasi jalan darat dan jembatan yang baik, tutupnya.(asta)








