Medianusantaranews.com, (Banyuasin)- Bukan para mengguna jalan nasional dari Simpang Tiga Taman Kota Betung Kabupaten Banyuasin menuju Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan saja yang dibuatnya resah, tetapi justru warga setempat yang berdumisili disepanjang perbaikan jalan itu justru dibuat jantung seakan mau copot.
Pasalnya, lubang galian buatan pekerja kontraktor berlama-lama dibiarkan terbuka, sehingga selain mengancam keselamatan para pengguna jalan itu dan parahnya justru bagi warga setempat selalu dikejutkan dengan hentakan suara kendaraan yang terjebak digalian lubang itu dan bikin detak jantungnya berdebar.
Rachman (36) mengaku kaget ketika sampai Simpang Tiga Betung yang arah ke Sekayu kondisinya bisa membuat mobil yang disopiri jadi tambah rusak. Sebab seminggu yang lalu saya melintas sudah ada galian buatan itu, tetapi sudah hampir 10 hari ini saya kembali melintas masih juga ditutup aspal, jadi tujuanya penggalian ini untuk perbaikan apa mau bikin pengguna jalan banyak celaka, ucap warga dari Kabupaten Musi Rawas ini saat dibincangi wartawan Sabtu 27 Februari 2021 ketika istirahat sebuah rumah makan dikawasan Kelurahan Betung.
Masih menurutnya, mending kalau ada dipasang rambu dan untungnya hari ini cuara terlihat terang, coba jika ada hujan lubang galian buatan itu terisi air bisa pengguna jalan banyak yang terjebak.
” Kalau kendaraan berat seperti mobil yang disopiri, kalau terjebak lubang itu paling cuma pecah ban atau patah As roda, tapi kalau kendaraan roda dua itu yang paling berbahaya, paling tidak bisa nginap di rumah sakit tidak beruntung bisa tewas dilokasi kejadian”, sambung H Suginen warga Betung.
Sesepuh masyarakat Kelurahan Betung ini menilai pekerja kontraktor diruas jalan itu dianggap tidak profesional dan tidak punya modal, sehingga hanya buat celaka orang banyak saja.
Galian itu sudah lebih seminggu ini dan oleh pekerjaannya dibiarkan begitu saja tidak ada rambu sama sekali, iya kalau galianya itu dangkal dan mendatar sisi-sisinya, kedalamannya ada yang terlihat lebih 10 cm, sehingga bagi pengguna jalan sudah banyak yang terjebak dan rusak kendaraanya hampir setiap hari ada dan pengendara sepeda motor yang terjatuh banyak dan kami yang dumisili dekat lokasi seperti sering dikejutkan suara kendaraan yang melintas.
Kata bapak yang mengaku pernah jadi pekerja bangunan itu menilai kontraktor perbaikan itu tidak punya modal dan tidak memiliki kemanusiaan, maka seenaknya sendiri kerjanya tanpa lihat resiko bagi orang banyak.
Tentu peran Wakil Rakyat dan Pengawas proyek sangat penting, jangan cuma didiamkan, bila perlu kontraktor uang tidak profesional itu disanksi dan cara pengerjaan semacam itu tidak akan jadi jalanya, justru tambah lama kerusakan jalan dan tidak sedikit biaya dari uang rakyat untuk perbaikanya, ungkapnya.
“Jika pada siang hari atau tak ada hujan, tidak begitu berbahaya bagi pengguna jalan dan kami warga disepanjang jalan tidak begitu dikejutkan dengan hentakan suara kendaraan terjebak dilubang, tapi kalau pada malam hari ditambah ada hujan suara kendaraan yang melintas dan terjebak dilubang itu auranya bikin jantung ini berdebar”, tutupnya.
Sayangnya sampai britanya ditayangkan di media ini belum ada pihak pekerja kontraktor yang diminta konfirmasinya.(mnn/yok)








