Banyuasin,medianusantaranews com- Sudah habis kesabaran masih saja dari menegeman Pt. Odira Enegi tidak menepati janjinya akibat aktivitas dari pengeboran minyak bumi yang limbahnya mengaliri lahan perkebunan karet milik warga Simpang Trans Dusun 6 Desa Keluang Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan yang kejadianya tahun 2018 sampai bulan pertama tahun 2022 masih tidak ada kejelasanya.
Sementara pihak menegemen Pt Odira melalui Humas langsung oleh Fadhel menghubungi via telepon maupun mendatangi dikediaman pihak korban selalu memberikan janji-janjinya yang tidak pasti, bahkan dalam sepekan terakhir ini Fadhel mendatangi kediaman Al-Fath selaku korban mengatakan bahwa pihak perusahaan sekarang tidak ada akan bayar kerugian warga terdampak, walau ada namanya tiasih, selain itu ada pemberian sembako, terang Al-Fath yang didampingi Roni cs kepada wartawan media ini (3/2/2022).

Al-Fath selaku korban menanggapi komentar Fadhel Humas Pt. Odira menyimpulkan bahwa dirinya tidak akan menuntut kerugian apapun dari perusahaan, jika dalam sepekan ini masih tidak menepati janjinya, bosan mendengar janji-janjinya, maka diminta pihak PT. Odira segera kembalikan Tanaman Karet yang mati itu yang Siap Disadabnya.
“Jumlah batang Karet milik kami yang mati akibat dampak dari limbah cair Pt Odira itu dari hasil pemeriksaan pihak Tim gabungan saat itu sebanyak 125 batang, dari karet kami itulah yang menjadi sumber kehidupan kami, setelah mati terkena limbah kami kehilangan sumber pendapatan dan pihak perusahaan hanya memberikan janji-janjinya saja, maka kami biar juga bisa hidup secepatnya pihak Pt. Odira kembalikan Tanaman Karet kami yang Siap Dideres”, desaknya.
Apabila pihak perusahaan masih juga bekelak apapun resikonya bahkan nyawa sekalipun siap kami pertaruhkan, karena kami anggap pihak perusahaan milik plat merah itu tidak ada kepedulian bagi kehidupan masyarakat penyangga yang langsung terdampak limbah operasinya, sambung Roni dengan nada tinggi.

Perwakilan warga yang terdampak, Khahar kepada wartawan media ini menyayangkan dengan pernyataan pihak perusahaan itu yang disampaikan kepada pihak korban belum lama ini dan pernyataan itu sangat menyakiti hari masyarakat khususnya bagi korban limbah.
Waktu berjalan 5 tahun itu tidak sebentar dan warga kami yang terdampak limbah aktivitas Pt Odira itu mulai tahun 2018-2022 ini sudah cukup sabar, tetapi sepertinya perusahaan itu patut oleh masyarakat diberikan sanksi keras dan kami masyarakat terdampak jangan dianggap sepele, tegas Khahar dengan nada berang.
Pada awal Februari 2022 kemarin warga kami sempat mencoba menutup pintu perusahaan itu, karena kecewa dengan menegemen Pt Odira yang dianggap akan memicu keributan warga penyangga, maka setelah Humas Pt Odira bisa saya hubungi via ponsel yang ada, akhirnya warga diminta kembali meninggalkan lokasi, tapi jika janjinya dalam sepekan ini tak ditepati jelas kami selaku korban akan gelar aksi besar-besaran, tambah Khahar.
Terpisah, via ponsel Humas Pt Odira, Fadel berjanji bagaimana caranya mulai 1 Februari hingga 7 hari setelah itu siap merealisasikan dan meminta kepada para korban limbah beri kesempatan dirinya bekerja 7 hari kedepan, katanya Fadel yang ditirukan oleh warga.(mnn/Biro-SS)








