Medianusantaranews.com, (Banyuasin)- Penyebab gagalnya masyarakat petani asal Desa Pulau Muning Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan itu akibat dari saluran Daerah Aliran Sungai (DAS) di antara Desa Pulau Muning yang mengalir ke Desa Sako Makmur mendangkal dan ditimbun digunakan untuk jalan poros. Dampak dari pendangkalan itu, masyarakat Desa Pulau Muning mengalami gagal panen karena lahan sawah yang tanaman padi siap di Panen terendam banjir, bahkan sekarang para petani didesa ini tak bisa bercocok tanaman lagi, ucap Ali Umar Kades Pulau Muning saat diminta konfirmasinya oleh wartawan media ini via ponsel Selasa 20 April 2021.
Masih kata Kades Pulau Muning, Ali Usman menyampaikan bahwa saluran tersebut awal dulu yang dibuat oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyuasin. “Saluran yang ditutup itu padahal saluran itu yang dibuat oleh PU Pengairan Banyuasin untuk saluran air dari tiga Desa diantaranya Pulau Muning, Sako Makmur dan Limbang Mulya. Yang sekarang saluran itu ditutup dan pada waktu penutupan itu tidak ada musyawarah dengan Pemdes Pulau Muning. Terkait siapa yang menutup, kurang tau persis,” jelasnya.
Terpisah, terkait permasalahan ada aliran DAS yang ditutup, Sekretaris Desa Sako Makmur, Hartanto diminta konfirmasinya mengatakan, dulu mulanya tidak ada bukaan saluran dijalur 19 itu, terkait penutupan DAS itu berdasarkan dari musyawarah antar dua Desa dengan hasil kesepakatan pihak Desa Pulau Muning tetap melakukan perawatan normalisasi yang di anggarkan dari Pemerintah Desa Pulau Muning.
“Tidak tau karena ini sifatnya cuma antar Desa saja. Warga Desa Pulau Muning dan Warga Sako Makmur mensepakati bahwa ini dibuka dengan perjanjian saluran sepanjang 1500 meter itu selalu dirawat, ternyata setelah dua tahun ini masih tidak dirawat, maka ditutup, daripada wilayahnya yang bakal terendam,” sambung Abd. Azis Kades Sako Makmur.
Kades menambahkan, sebenarnya Desa Pulau Muning itu ada saluran tersendiri tanpa harus melalui saluran yang ditutup oleh masyarakat, tetapi saluran itu juga tidak dirawat, sehingga kondisinya dangkal, pada datang hujan airnya tetap menggenang, wajar kalau petani sawah disana bisa gagal panen, akibat saluran airnya tidak dirawat. Kalaupun tanggul yang ditutup dibuka, jika tidak dirawat, masih saja tak bisa panen sawahnya karena masih terendam juga.
Masih kata Kades, penutupan saluran itu masih era Kades sebelum dirinya jadi Kades dan sampai sekarang memang masih ditutup. Jadi kalau sekarang minta dibuka lagi tetapi tidak dirawat, tentu wilayah Desa Sako Makmur yang terendam dan saya selaku Kades yang jadi sasaran kemarahan oleh masyarakat saya sendiri, sedangkan waktu itu Zaman Pak Bukhori Kades sempat dimarah warganya, jelasnya menutup perbincanganya. (mnn/waluyo)








