
Banyuasin, MNN- Keluarga pasien yang divonis medis dari Rumah Sakit tempat dirawat positif covid mengaku resah dan bingung, Pasalnya, hasil tes negatif dan positif covid yang sejak 14 hari lalu belum diketaui, tiba-tiba dilakukan tes yang sama dari petugas Medis yang sama pula. Dengan dilakukan tes yang sama kedua itu justru sebagai keluarga dibuatnya resah, karena harus menunggu masa isolasi 14 hari kedepan lagi dan jangan-jangan nanti justru hasilnya menjadi postif, tentu akan menjalani karantina yang lebih panjang lagi waktunya, ujar Bambang usai menjalani tes ulang (30/5/2020).
Dikatakan Bambang, semenjak menunggu ayahnya sakit yang sudah komplikasi srjak 15 tahun lebih itu sebelum di Rawat Inap di Rs. Siti Khadijah Palembang, ayahnya dirawat inap di Klinik Kadir Betung lebih 15 hari, karena tidak ada perubahan kondisinya, maka kami sepakat dirujuk di Rs. Khadijah dan selama menjadi pasien lebih 15 hari dirawat tiba-tiba ayah oleh pihak Rs Khadijah divonis positif covid.
Semenjak itu kami bersama istri, ayuk dan kakak ipar yang selama mendampingi ayahnya dirumah sakit Khadijah lalu diminta menjalani isolasi mandiri dirumah masing-masing dan 14 hari lalu dilakukan tes covid dan sampai kemarin hasil dari itu belum diketahui hasil, tepi kami diminta untuk menjalani tes ulang dan hasilnya pun menunggu 14 hari lagi kedepan, ungkapnya.
Yang menambah bingung dan resah bagi kami sekeluarga ini lanjut Bambang, selama kami menjalani isolasi mandiri ini dikabarkan ayahnya telah meninggal dunia dalam rawat inap di Rs. Siti Khadijah Palembang, tetapi sampai saat ini secara resmi tertulisnya kami ini belum mendapatkanya, bab beberapa waktu kavar ayahnya meninggal dunia hanya dari kabar disampaikan secara lesan dari petugas Puskes Betung.
“Kami ini kan asal dari Jawa, kalau ada keluarga yang meninggal dunia itu dilakukan pengiriman doa, karena kami ini Muslim biasa untuk mengirim doa bersama bahkan sampai 7 hari berturut-turut, karena kenatian ayahnya tidak jelas secara resminya, maka kami sekeluarga bahkan para tetangga bahkan sahabat dekat ayahnya pun banyak yang bertanya-tanya baik dengan saya langsung naupun dengan keluarga yang lainya, nah kalau demikian keberadaanya kan kami dan masyarakat juga menjadi resah dan bingung”, sambung Suci kakak kandung Bambang.
Terkait kabar meninggal ayahnya meminta agar pihak Rs. Siti Khadijah jika memang ayahnya telah dinyatakan meninggal dunia supaya dikeluarkan Surat Resmi Kematian dan Bukti Surat Penguburanya, sebab bukti surat itu untuk mengurus buju akte kematian di Kantor Dinas Dukcapil dan sebagai ahli waris kami sekeluarga ini tentu membutuhkan bukti surat-surat resmi kematian orang tuanya dari Rumah Sakit, tegasnya.

Masih kata Suci, awalnya ada kabar kalau ayahnya itu telah meninggal dapat dari kabar petugas medis dari Puskesmas Betung, tetapi selama kami ini diminta melakukan isolasi mandiri selama 14 hari ini yang hasilnya belum ada juga dan dilakukan tes ulang, maka kami belum bisa keluar rumah untuk menanyakan surat kematian dan penguburan ayahnya kalau memang ayahnya yang menderita penyakit komplikasi sejak 15 tahun lalu itu telah meninggal dunia.
“Kami ini kan manusia lo pak dan kami ini resmi warga negara asli Indonesia, kan ada tatacara jika meningal dunia ada cara yang aturan resmi tidak sediaman semacam ini yang seolah tidak lagi harga diri dan yang dikabarkan telah meninggal dunia itu ayah kandung kami”, ucap Suci meratap sedih.
Ditempat yang sama dr. Een didampingi petugas medis lain usai melakukan tes covid ulang dikediaman Bambang saat ditanya wartawan mengenai hasil tes perdana mengakui memang belum keluar hasilnya selama 14 hari ini dan saat ini tiba saatnya dilajukan tes tahab kedua, maka tetap kami lakukan kareba ini perintah atasan dan aturanya dan untuk mengetahui hasil tes kedua ini juga hasilnya akan diketahui 14 hari kedepan, katanya.
Keterlambatan untuk mengetahui hasil tes itu dampak dari kurangnya tenaga skill dari tim medis terkait corona ini, kalau awalnya tes itu dilakukan hanya butuh waktu 3 hari sudah bisa diketahui, tetapi semakin banyak yang dilakukan tes, justru makin lama diketahui hasil tesnya, sambung Awaludin.
Menurutnya, seharusnya bagi warga yang diisolasi dan telah dilakukan tes sebelumnya untuk dilakukan tes ulang ini jika hasil tes yang perdana sudah diketahui hasilnya dan sebagai dasar acuan untuk dilakukan tes berikutnya. Kakau yang sekarabg ini kami melakukan tes yang sama dengan tes yang pertama, logikanya kurang tepat, sebab tidak ada acuan yang mendasar, tutupnya sembari mengatakan kalau masalah surat kematian dan surat penguburan itu harus ada tetapi dari Runah Sakit tempat pasien itu dirawat, tapi biasanya agak sulit urusanya timpal dr Een sembari pamitan meninggalkan lokasi.(waluyo)








