ANGKUTAN BATU BARA DIJALAN UMUM TANJUNG ENIM – MUARA ENIM TERUS BIKIN MASALAH

Muara Enim
medianusantaranews.com

Angkutan batubara, yang menggunakan jalan umum terutama dari arah Kecamatan Tanjung Agung, Kecamatan Lawang Kidul ke arah Kota Muara Enim atau sebaliknya terus membuat masalah dan mengundang keresahan warga.

Sebelumnya, belum lama ini sebuah tronton mengangkut batubara menyeruduk warung warga desa Lingga Kecamatan Lawang Kidul, Rabu (02/08/2023) lalu.

Kini, lagi dumptruck tronton pengangkut batubara membuat masalah, menciptakan macet panjang dan adanya tumpahan batubara di jalan lintas Nasional Kareng Asem Tanjung Enim, Kamis malam (10/08/2023).

Dari pantauan media ini dilokasi, penyebabnya tiada lain lantaran ada dua tronton pengangkut batubara salung bersenggolan. Diduga dua supir dumptruck tronton yang sedang bermuatan batubara itu membawa kendaraannya dengan ugal – ugalan, ingin saling mendahului. Sedangkan di ketahui bahwa volume kenderaan di akses jalan umum Tanjung Enim sangat padat, ditambah lagi jalan tersebut tidak terlalu lebar

Tak ayal lagi akibat kejadian itu mengakibatkan macet panjang yang cukup lama serta menyebabkan tumpahan batu bara menjadi limbah yang dihisap warga setempat karena salah satu tronton yang bermuatan batubara baknya terbuka.

Dari informasi yang didapat dilokasi bahwa dua dumptruck tronton yang saling bersenggolan tersebut diduga berasal dari PT MME dan PT SMJ..

Salah seorang Tokoh masyarakat Desa Lingga Ahmad Nangwi yang juga menyaksikan kejadian tersebut sangat menyesali kejadian – kejadian yang terus terjadi oleh angkutan batubara dijalan umum.

Menurut dia, kejadian demi kejadian yang disebabkan oleh tronton pengangkut batubara dijalan umum, terus menjadi momok yang menjadi ancaman jiwa warga setiap saat.

Ia mengatakan, seharusnya dengan masih terus diizinkannya angkutan batubara menggunakan jalan umum, dari pihak perusahaan, baik itu perusahaan tambang batubara maupun dari pihak transportir seharusnya bisa tahu diri dan bisa melakukan penertiban masing masing. Jangan terkesan jalan umum milik masyarakat sudah dialih fungsikan menjadi milik perusahaan pengusaha batubara.

Dia menyinggung hasil rapat yang dilaksanakan Pemkab Muara Enim baru – baru ini.

” Apalagi sebelumnya ketika rapat di Pemkab Muara Enim baru baru ini sudah disyaratkan tronton pengangkut batubara hanya boleh konvoi dengan jarak 60 Meter dan diperbolehkan melintas dari pukul 21.00 WIB malam,” kata pria yang akrab dipanggil Jangko ini

” Sejauh ini belum ada ketertiban sama sekali terhadap mobilisasi angkutan batubara yang melintas dijalan umum mulai dari Kecamatan Tanjung Agung, Kecamatan Lawang Kidul hingga Muara Enim. Semua angkutan batubara masih terlihat sewenang -wenang dan koboi – koboian mengejar target, tidak peduli dengan keselamatan masyarakat pengguna jalan,” terangnya .

Dalam hal ini, lanjut Jangko, dirinya sebagai masyarakat sangat berharap kepada pihak – pihak yang terkait untuk melakukan penertiban terhadap lalu – lalang tronton pengangkut batubara dijalan itu, jangan terkesan dibiarkan, agar kejadian – kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi lagi.

Dan satu hal lagi, sambung Jangko, agar dumptruck tronton ataupun bak mati yang mengangkut batubara menggunakan jalan umum agar sebelum berangkat, bak kotor oleh batubara itu disiram terlebih dahulu dengan terpal penutup yang rapi dan kuat. Sehingga debu – debu batu bara tidak terus – terusan dihisap warga. Dan tentunya hal itu perlu diterapkan oleh pihak pihak yang sudah mengizinkan angkutan batubara menggunakan jalan umum. (Ab)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *