Nang Ali Solihin, Tokoh Panutan di Sumsel Telah Berpulang, Firdaus Hasbullah: Kami Sangat Merasa Kehilangan.

Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)
medianusantaranews.com

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka menyelimuti masyarakat Sumatera Selatan. Salah satu tokoh senior dan sesepuh yang menjadi panutan masyarakat, H. Nang Ali Solihin, telah berpulang ke rahmatullah pada usia 87 tahun.

Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Siti Khadijah, Palembang, pada Jumat, 24 Juli 2026, sekitar pukul 21.11 WIB.

Semasa hidupnya, H. Nang Ali Solihin dikenal sebagai sosok pemimpin yang berintegritas dan memiliki dedikasi besar terhadap pembangunan daerah. Beliau pernah menjabat sebagai Bupati Muara Enim periode 1985–1990 dan tercatat sebagai kepala daerah ke-8 atau bupati definitif ke-7 berdasarkan sejumlah catatan sejarah daerah.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang ke Rahmatullah Salah satu tokoh senior dan sesepuh H. Nang Ali Solihin, pada usia 87 tahun. Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Siti Khadijah, Palembang, pada Jumat, 24 Juli 2026, sekitar pukul 21.11 WIB.

Usai menuntaskan pengabdian di Kabupaten Muara Enim, beliau kembali dipercaya memimpin Kabupaten Musi Rawas sebagai Bupati periode 1990–1995. Kepemimpinannya di dua daerah tersebut meninggalkan jejak pembangunan yang masih dikenang hingga kini.

Jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Sukamaju, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan pelayat yang terdiri dari keluarga, kerabat, tokoh masyarakat, serta pejabat dari Kabupaten PALI, Muara Enim, dan berbagai daerah di Sumatera Selatan.

Atas wafatnya H. Nang Ali Solihin, Wakil Ketua DPRD Kabupaten PALI, Firdaus Hasbullah, SH., MH., atas nama pribadi, pimpinan dan anggota DPRD PALI, serta masyarakat Kabupaten PALI, menyampaikan belasungkawa yang mendalam.

Firdaus mendoakan agar almarhum memperoleh husnul khatimah, diampuni segala dosa, diterima seluruh amal ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan.

Menurut Firdaus, kepergian H. Nang Ali Solihin merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Sumatera Selatan. Baginya, almarhum bukan hanya seorang mantan kepala daerah, tetapi juga guru politik, mentor, sekaligus tokoh panutan lintas generasi.

Ia menilai H. Nang Ali Solihin memiliki peran sentral dalam sejarah pembangunan dan dinamika politik di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya bagi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan Musi Rawas.

Firdaus mengungkapkan, rekam jejak pengabdian almarhum tercermin dari sejumlah momentum penting dalam perjalanan daerah, di antaranya:

Pertama, sebagai tokoh pejuang pemekaran Kabupaten PALI. H. Nang Ali Solihin diakui sebagai salah satu tokoh utama yang memperjuangkan lahirnya Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Ketokohan, pemikiran, serta kegigihannya menjadi penggerak perjuangan masyarakat hingga akhirnya PALI berdiri sebagai daerah otonom.

Kedua, pelopor kemajuan Kabupaten Musi Rawas. Saat memimpin Musi Rawas, beliau dinilai berhasil meletakkan fondasi pembangunan yang kuat. Kawasan transmigrasi yang sebelumnya masih tertinggal mulai berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan wilayah perkotaan yang maju.

Ketiga, tokoh sipil yang mewarnai kontestasi politik Sumatera Selatan pada awal era Reformasi 1998. Saat mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Selatan, H. Nang Ali Solihin menjadi representasi kuat dari kalangan masyarakat sipil. Kehadirannya memberikan warna baru dalam dinamika politik daerah dan menciptakan persaingan yang sangat ketat dalam sidang pemilihan di DPRD Sumsel.

Keempat, guru politik dan sesepuh daerah. Hingga akhir hayatnya, almarhum tetap menjadi tempat para pejabat, tokoh masyarakat, dan politisi muda meminta nasihat, berdiskusi, serta belajar mengenai kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.

Secara pribadi, Firdaus mengaku memiliki kedekatan emosional dengan almarhum. Sejak masih menjadi mahasiswa hingga terjun ke dunia politik, dirinya kerap bersilaturahmi ke kediaman H. Nang Ali Solihin untuk berdiskusi, meminta arahan, serta memperoleh motivasi.

“Bagi saya, beliau adalah sosok pemimpin yang berpengalaman, bijaksana, sederhana, dan penuh keteladanan. Saya banyak belajar dari beliau sejak masih mahasiswa,” ujar Firdaus.

Firdaus juga memberikan kesaksian mengenai besarnya kontribusi almarhum terhadap pembangunan daerah. Menurutnya, di bawah kepemimpinan H. Nang Ali Solihin, Kabupaten Musi Rawas berkembang pesat dengan fondasi pembangunan yang kuat. Hal yang sama juga terlihat saat beliau memimpin Kabupaten Muara Enim.

Ia turut mengenang momentum bersejarah pada awal Reformasi 1998 ketika H. Nang Ali Solihin maju sebagai calon Gubernur Sumatera Selatan dari kalangan masyarakat sipil.

“Saat itu saya ikut berjuang mendukung beliau dalam sidang paripurna DPRD Sumsel. Suasana pemilihan berlangsung sangat ketat hingga saya sempat diamankan aparat. Itu menjadi salah satu momen politik yang tidak pernah saya lupakan,” kenangnya.

Firdaus pun menegaskan bahwa dirinya menjadi saksi atas dedikasi dan keteladanan almarhum selama mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Saya bersaksi beliau adalah orang baik dan menjadi tokoh panutan bagi kami. H. Nang Ali Solihin merupakan tokoh sentral dalam sejarah pembangunan dan dinamika politik di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya bagi Kabupaten PALI, Muara Enim, dan Musi Rawas,” tegas Firdaus.

Menutup pernyataannya, Firdaus menyampaikan bahwa kepergian H. Nang Ali Solihin meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat Sumatera Selatan.

Kepergian beliau membuat kami sangat merasa kehilangan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya, serta semoga keteladanan, pengabdian, dan perjuangan beliau menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun Sumatera Selatan,” pungkasnya. (Red()




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *