PASUTRI DI MUARA ENIM DISINYALIR MELAKUKAN KEKERASAN DAN PENJUALAN ANAK DIBAWAH UMUR

Muara Enim
medianusantaranews.com

Pasangan suami istri (pasutri) inisial AH dan EP, warga Muara Enim Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Diduga sudah melakukan kekerasan berupa penganiayaan anak dibawah umur, juga diduga sudah melakukan penjualan anak dibawah umur (traffiking).

Korbannya adalah dua anak perempuan kakak beradik sebut saja Mawar Bin Xy (9th) dan Melati Bin Xy (12th)

Untuk Mawar Bin Xy (9th), pasutri ini diduga sudah melakukan kekerasan berupa penganiayaan. Sedangkan untuk Melati Bin xy (12th), pasutri ini diduga sudah melakulan penjualan anak dibawah umur via online melalui aplikasi Me – chat kepada lelaki hudunf belang disekitaran Muara Enim. Dalam kasus penjualan anak dibawah umur ini, pasutri ini layaknya disebut mucikari.

Hal ini terungkap sebagaimana pengakuan dua anak perempuan tersebut kepada media ini, Jum,at (24/06/2022)

Korban, Melati (12th) mengatakan kalau dirinya sudah dijual kepada lelaki hidung belang oleh pasangan suami istri ( H dan P) yang tiada lain masih ada hubungan keluarga dengan ibu tirinya.

Melati mulai bercerita, setelah Bapak kandungnya menikah lagi dengan perempuan lain, dirinya dan adiknya hidup bersama bapak kandung dan ibu tirinya di SP 3 Lahat.

Namun dia dan adiknya tak bersekolah lagi, lantaran orang tuanya  tidak mampu lagi membiayai sekolah mereka.

Tinggal bersama bapak kandung dan ibu tirinya di SP 3 Lahat, itupun tidak berlangsung lama.  Karena ibu tirinya itu tidak menyukai mereka berdua. Sedangkan Bapak kandungnya lebih memilih ibu tirinya daripada melindungi  darah dagingnya sendiri.

” Waktu itu kami jadi bingung, karena ibu tiri kami tidak mau tinggal bersama kami anak kandung bapak dari suaminya, sedang kami belum mengerti apa apa untuk hidup mandiri ” Tutur Melati sedih.

Kemudian, lanjut Melati lagi, Ibu tirinya itu mengambil keputusan untuk mengusir mereka berdua dari rumah dengan menititipkan mereka berdua kepada pasangan suami istri yang di Muara Enim untuk diperkerjakan di usaha laundry milik suami istri itu.

” Datang ke tempat Om dan tante lebih dahulu adikku, sedang saya menyusul kemudian dengan diantar Bapak beberapa minggu kemudian ” Jelas Melati.

Sebelumnya dia dan adiknya sempat ingin berterima kasih kepada saudara tirinya itu, karena sudah Sudi menerima mereka berdua, memberi makan dan juga memberi tempat tinggal mereka berdua.

Waktu itu, dirinya berharap, saudara tirinya itu bisa menjadi pelindung mereka dengan menganggap mereka berdua sebagai bagian keluarga sendiri.

” Ditempat om dan tantenya itu, saya bersama adik saya, sehari hari diperkerjakan di laundry milik om dan tante sendiri di Pasar Muara Enim ” Ujar Melati.

Dirinya bersama adiknya pun merasa cukup senang dan tenang bekerja di laundry asalkan bisa makan dan ada tempat tinggal, walaupun sebenarnya pekerjaan itu sangat berat, terutama untuk anak anak seumur adiknya, yang harus menyetrika pakaian bertas – tas banyaknya setiap hari. Tapi mau bagaimana lagi, yang penting   bisa makan serta memiliki tempat untuk tinggal.

” Namun ketenangan kami di tempat om dan tante itu tidaklah berlangsung lama. terutama diriku. Karena rupanya om dengan tante sudah memiliki niat buruk terhadap diriku, mungkin itulah alasan mereka mau menerima kami tinggal bersama mereka ” ujar Melati.

” Kami dua beradik seperti sudah masuk ke sarang setan,” Tambah Melati sedih bercampur kesal.

Melati mulai menceritakan kejadian yang sudah menimpah dirinya.

” Pada awal tahun 2022, awal kehancuran masa depanku  ” tuturnya.

” Malam itu, aku diajak om dan tante jalan jalan di sekitar Muara Enim. Kami mengendarai sepeda motor, om berboncengan dengan tante, sedang saya berboncengan dengan lelaki yang tidak saya kenal. Kami menuju ke luar Muara Enim, Tiba di suatu warung kami turun. Warung itu ada musiknya, rupanya itu adalah sebuah cafe tempat orang minum minuman keras ” Ujar Melati.

Lanjut Melati, di cafe itu dirinya dipaksa om dan tantenya minum minuman keras, sedang dirinya tidak tahu minuman itu, karena dirinya tidak pernah minum minuman keras.

” Tapi mau bagaimana lagi, saya tidak bisa menolak. Saya pun minum minuman keras, hingga nyaris mabuk di cafe itu,” Papar Intan

” Selanjutnya saya dengan tante pergi ke sebuah hotel di Muara Enim. Setibanya kami dikamar hotel, rupanya sudah ada lelaki yang menunggu kami didalam kamar hotel itu, ” Sambungnya.

” Setelah kami masuk ke kamar hotel, tante menyuruh saya  masuk dulu ke kamar mandi, karena tante mau ngobrol dulu dengan lelaki yang ada dikamar itu, ” urai Intan.

Kata Intan lagi, dikamar hotel itu dirinya disuruh tantenya menelan sebutir pil, entah pil apa itu, lalu tante pamit keluar kamar katanya mau beli makanan. Tapi setelah tantenya keluar kamar tidak begitu lama kepalanya langsung pusing,  hingga dirinya tak kuat lagi dan tidak sadarkan diri.

Dirinya pun tidak tahu berapa lama dirinya tidak sadarkan diri.Dia juga tak tahu apa yang sudah terjadi atas dirinya.

Ketika dia sadar, sudah ada lagi tantenya dikamar hotel itu. Sedang lelaki yang dikamar itu sudah pergi. Selanjutnya setelah dirinya sudah pulih kembali, baru mereka pulang.

” Saya tidak tahu, apa yang terjadi pada diriku ketika aku tidak sadarkan diri di kamar hotel itu. Hanya saja tempat sensitifku ada merasa perih saat buang air kecil di pagi harinya ” ungkap Melati.

” Rupanya saat saya tidak sadarkan diri itulah pertama kali kegadisanku direnggut oleh lelaki yang di hotel itu” keluh Intan sedih.

Sejak kejadian itu, dengan segala ancaman dari om dan tante nya, dirinya pun mulai menggeluti pekerjaan barunya itu tanpa bisa menolak. Dari sejak awal tahun 2022, ada sekitar 5 bulan dirinya terus melakukan pekerjaan itu dibawah ancaman akan dibunuh oleh om dan tantenya kalau berani menolak keinginan mereka.

” Kejadian serupa terus terjadi. Saya akui hampir semua hotel dan losmen di Muara Enim pernah ku masuki dengan diantar tante untuk menemui lelaki, tentunya setelah ada janjian dengan tantenya yang sekaligus mucikarinya itu melalui aplikasi me -chat ” Beber Intan.

” Setiap menemui lelaki di hotel, saya sering diberi sebutir pil agar saya tidak sadarkan diri ketika sedang bersama lelaki,” terang Intan.

Intan juga mengungkapkan kalau dirinya tidak pernah memiliki handphone untuk mengabari kesedihannya ini.

Bukan cuma itu, lanjut Intan lagi, bahkan dikediaman om dan tantenya itu, dirinya juga disiapkan kamar untuk melayani lelaki yang datang ke rumah. Dikamar itu bukan cuma dirinya, kamar itu juga disewakan tante nya untuk pasangan mesum yang datang dari luar. Padahal tempat itu berada di pinggir jalan raya di pusat kota Muara Enim.

Dengan wajah murung, Intan terus menceritakan kejadian yang dialaminya, karena perbuatan om dan tante nya itu, masa depannya hancur. Dirinya pun tidak berbuat apa apa, karena dia sering diancam akan dibunuh kalau menolak kehendak om dan tantenya itu. Dirinya yang baru berumur 12 tahun dipaksa menjadi wanita dewasa

Lanjut Melati, pernah di suatu waktu om mengajak dirinya keluar rumah. Om mengajak dia ke tempat temannya yang lokasinya arah Tanjung Enim. Di tempat temannya itu, om nya memaksa dirinya menghisap sesuatu yang dibakar pakai korek api. Belakangan dirinya ketahui kalau yang dihisap itu narkoba jenis sabu.

Kesedihan Melati bukan cuma sebatas itu, setelah Melati mengetahui ternyata om suami tantenya itu menginginkannya karena sudah pernah mencoba memperkosa dirinya

” Saya pernah mau di perkosa om, waktu itu saya diajak om keluar rumah mengendarai sepeda motor. Kami menuju ke pinggir Muara Enim. Tiba ditempat sepi, tiba tiba om nya itu memegang tempat sensitifnya, saya dipaksa memegang “bur..ng,” nya. Kemudian om mengajak dirinya melakukan perbuatan mesum. Tapi saya menolak. Sehingga perbuatan itu tidak terjadi, ” Urai Melati.

” Saya juga pernah diajak tantenya suntik KB ke bidan, kata tante ketika mengajaknya, itu suntik vaksin agar tidak tertular covid – 19m Ternyata setelah saya ketahui bahwa itu suntik KB agar aku tidak hamil karena sering berhubungan badan dengan lelaki ” Ujar Melati.

Oleh tante dirinya dibilang ke bidan, kalau dia sudah bersuami. Namun ketika bidan menanyakan KTP miliknya, saya bilang tidak ada KTP. Namun karena bidan itu terus dibujuk tante, dirinya pun tetap disuntik bidan itu.

” Untung Tuhan masih menyelamatkan kami dari perbuatan manusia manusia biadab itu. Ada orang baik hati mau menyelamatkan kami ” Kata Melati.

Ditempat saudara tirinya itu, hidup melati dengan adiknya benar benar menderita. Selain masa depannya hancur karena dijual, adilnya yang baru berumur 9 tahun juga sering disiksa.

” Saya minta kepada penegak hukum, agar hukum bisa ditegakkan seadil – adilnya  Saya minta om dan tante om yang tiada lain saudara tirinya itu dihukum sesuai aturan yang berlaku,” Tutup Melati mengakhiri perbincangannya.

Sedangkan Mawar (9th) yang juga sempat diwawancarai media ini juga mengakui kalau dirinya juga mengalami nasib yang tak kalah buruknya dengan kakaknya. Hanya saja dia tidak dijadikan prostitusi, lantaran dia masih berumur 9 tahun

Mawar mengatakan, setelah kakaknya (Melati) sering tidak bekerja di laundry milik om dan tantenya itu. Maka pekerjaan laundry sering ia kerjakan sendirian.

Dia sering dipukul oleh om dan tantenya kalau dinilai salah atau melakukan pekerjaan yang disuruh. Tubuhnya sudah matang dipukul. Pernah cuma gara gara dituduh menghilangkan sebelah kaos kaki di laundry, dirinya di siksa habis habisan.

” Saya disiksa habis habisan oleh om dan tante gara gara saya dianggap menghilangkan kaos kaki sebelah di laundry ‘ Ucap Permata polos.

” Oleh suami istri itu, saya dibanting seperti film smackdown, saya dipukul pakai tangan, ditendang, diinjak tubuh dan kepalaku, dipukul pakai kunci roda mobil, dipukul pakai charger hp, ditusuk tusuk kepalaku dengan colokan hp, dipukul pakai dandang (ember) ” ujar Permata polos

Mawar juga mengakui kalau dirinya mengetahui pekerjaan kakaknya (Melati) yang dijual dirinya.

” Saya tahu kalau kakak saya disuruh om dan tante bekerja itu, karena saya sering melihat kakak diajak pergi tante dan juga sering ada lelaki masuk ke kamar kakaknya,” terang Mawar.

Sementara Itu terkait masalah ini, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kabupaten Muara Enim, Yenifer Oktafianti didamping anggotanya Eti Nurjanah, yang juga mendampingi kedua korban. Juga membenarkan keterangan dua korban tersebut.

Dikatakan Yeni, fihaknya bersama Lurah Pasar Muara Enim, Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat sudah melakukan interogasi terhadap dua korban. Dan dua anak itu sudah menceritakan serta mengakui apa apa yang mereka alami selama tinggal dengan saudara tirinya itu.

Lanjut Yeni, kalau Anak yang bernama Mawar (9th) diduga sudah mengalami kekerasan fisik oleh pasutri tempat mereka tinggal. Sedang Melati (12th) diduga sudah dijual, dijadikan wanita untuk melayani lelaki hidung belang oleh pasangan suami – istri saudara tirinya itu.

Melati juga pernah dipaksa narkoba, dilecehkan bahkan nyaris diperkosa oleh suami saudari tirinya itu. Melati juga dipaksa disuntik KB agar tidak hamil karena sering berhubungan dengan lelaki.

” Terungkapnya kasus ini, berawal dari pegawai Lurah Muara Enim curiga melihat ada anak kecil  (Mawar) yang mukanya bengkak dan lebam.  Ketika ditanya pegawai lurah, anak itu sempat berbohong, dia ngaku jatuh dari tangga. Tapi setelah terus menerus dibujuk, akhirnya Mawar mengakui kalau dirinya sudah disiksa oleh suami – istri saudara tirinya itu ” beber Aktivis perempuan yang akrab disapa Yeni ini.

Setelah mendengar pengakuan anak itu, pegawai kelurahan langsung menghubunginya sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kabupaten Muara Enim untuk meminta bantuan pendampingan.

” Awalnya kejadian itu hanya ingin di dikoordinasikan saja dengan pelaku, dengan membuat perjanjian agar jangan diulangi lagi penganiayaan itu. Tapi setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata masih ada korban lain yaitu Melati (12th). Bahkan yang dialami Melati lebih parah lagi, karena diduga anak perempuan yang masih dibawah umur itu sudah dijadikan prostitusi oleh sadara tirinya i

” Setelah kami mendengarkan cerita dua anak itu, Kami jadi kaget. Maka itu kami sebagai organisasi yang membidangi masalah itu sangat merasa terpanggil untuk mendampingi dan melindungi dua anak itu ” Kata Yeni.

” Kami anggap masalah dua anak itu masalah serius, bukan sepele, maka itu kami segera mengambil langkah langkah perlu untuk kedua anak itu ” Ujar Yeni.

Lanjut Yeni, pertama fihaknya segera menyelamatkan kedua anak itu dari kediaman saudara tirinya itu. Kemudian fihaknya segera melakukan koordinasi dan melaporkan dengan aparat penegak hukum Polres Muara Enim serta instansi yang terkait.

Kata Yeni lagi, sebagai organisasi baru di Kabupaten Muara Enim tentunya dengan kemampuan yang sangat terbatas dalam segala hal.  Tapi dirinya bersama teman temannya tetap bersemangat melaksanakan tugas tugas itu.

” Dua anak itu harus segera diselamatkan dan diurus serta mendapatkan penanganan, ” ucap Yeni.

” Kami segera mendatangi Polres Muara Enim, untuk mengkoordinasikan kasus ini, selanjutnya membuat laporan agar kasus ini dapat ditindak lanjuti oleh penegak hukum,” Urai Yeni.

” Syukur Alhamdulillah, kasus ini sudah ada LP nya, tinggal lagi menunggu tindak lanjut aparat penegak hukum Polres Muara Enim” imbuh Yeni.

” Terkait masalah ini, kami juga sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Muara Enim, untuk minta bantuan penanganan dua anak yang sudah jadi korban itu ” kata Yeni.

” Namun sangat kami sayangkan, dari Dinsos Muara Enim belum ada tindakan apa apa, mala kami disuruh melaporkan terus setiap perkembangan kasus dua anak itu ke Dinsos, Kami mala bertanya kenapa respon Dinsos Muara Enim terkesan lamban, padahal kami anggap masalah ini sangat serius, karena tidak tertutup kemungkinan masih ada anak lain yang mengalami nasib serupa,” Ucap Yeni.

” Kami dari LPAI Kabupaten Muara Enim, walaupun dengan serba kekurangan sangat merasa terpanggil, sedangkan Dinas Sosial yang notabene Pemerintah, yang ada anggarannya, ada programnya. Kenapa kasus seperti ini cuma dipandang sebelah mata oleh instansi yang terkait, bahkan dengan alasan kekurangan SDM lah ” ujar Yeni

” Dalam hal ini, kami sangat berharap kepada Pemerintah, khususnya Pemkab Muara Enim untuk bisa ada rasa empati dan perhatian terhadap dua korban anak dibawah umur itu. Kalau bukan kepada Pemerintah Muara Enim kepada siapa lagi kami minta bantu penanganannya, juga kepada stakeholder lain ” pungkas Yeni. (Ab)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *