#Hancurkan 4 Jembatan Dan Ratusan Jiwa Mengungsi#

Lumajang,medianusantaranews.com- Mengaliran deras lahar dingin gunung Semeru lumpuhkan sarana transportasi darat dengan memutus empat jembatan dan sedikitnya ada ratusan jiwa ngungsi dalam Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan data BPBD Jatim hingga Jum’at 07 Juli 2023 pukul 20.00 WIB, banjir lahar dingin berimbas di-5 Desa yang ada di 2 Kecamatan, diantaranya Desa Sidomulyo dan Pronojiwo dalam Kecamatan Pronojiwo, kemudian Desa Jugosari, Desa Kloposawit dan Desa Tumpeng Kecamatan Candipuro.
“Imbas banjir di 5 Desa tersebut ada 4 jembatan yang terputus,” ujar Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jatim, Satriyo Nursen saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (08/07/2023). 
Satriyo menambahkan, ada 4 jembatan terputus yakni Jembatan penghubung Desa Kloposawit dengan Desa Tumpeng di Kecamatan Candipuro, Jembatan Kali Regoyo yang menghubung Desa Jugosari-Dusun Kebondeli Selatan di Candipuro.
“Selain itu jembatan yang terputus jembatan penghubung Desa Tumpeng dan Desa Nguter di Candipuro, Jembatan penghubung Lumajang-Malang di Desa Sidomulyo Kecamatan Pronojiwo,” ujar Dia.
Tidak hanya 4 jembatan putus, Satriyo mengatakan bahwa imbas banjir lahar dingin Semeru itu sejumlah lokasi di Lumajang dilakukan penutupan jalan.
“Di masing-masing lokasi jembatan yang putus, perangkat Desa dan pihak terkait telah melakukan penutupan akses jalan menuju lokasi,”ungkapnya.
Sementara itu Bupati Lumajang Thoriqul Haq menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari, menyusul terjadinya banjir lahar dingin Gunung Semeru yang menerjang beberapa Desa di wilayahya.
“Saya telah menetapkan tanggap darurat selama 14 hari, saya menugaskan Sekda untuk nunjuk satgas darurat bencana,” kata Thoriq ketika meninjau lokasi pengungsian di Balai Desa Jarit Kecamatan Candipuro.
Menurut Thoriq, cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi selama beberapa hari ini mengakibatkan banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah.
Bahkan, terjangan keras material lahar dingin Semeru juga mengakibatkan ada beberapa unit jembatan mengalami kerusakan hingga terputus total.
Karena itu, menurut Thoriq fokus utama saat ini adalah keselamatan jiwa. Ia pun mengimbau agar warga di tepian sungai untuk mengungsi, sampai kondisi dipastikan aman.
“Masyarakat yang ada di tepian lahar kami evakuasi di tempat pengungsian di beberapa Balai Desa termasuk yang ada di Balai Desa Jarit ini,” ucapnya. 
Lanjutnya, Pemkab Lumajang akan terus lakukan asesmen dan menginventarisir dampak yang timbul akibat bencana dari alam ini.
“Yang perlu kami segerakan normalisasi akses segera bisa diurai, dibersihkan, berikutnya kami akan menginventarisir infrastruktur yang perlu kami benahi kembali, beberapa jembatan yang ada di jalan kabupaten juga terputus kami inventarisir,” tandasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Sosial PPPA Lumajang, jumlah pengungsi mencapai 493 jiwa, mereka tersebar di beberapa titik pengungsian.
Seperti diketahui, bencana lahar dingin Semeru itu terjadi usai hujan dengan intensitas tinggi guyur lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa. Imbasnya, debit air di daerah aliran sungai lahar Gunung Semeru meningkat, selain menerjang jembatan, airnya pun meluber hingga ke jalan, ucapnya menutup penjelasanya, (tim/MNN)








