KPK TETAPKAN 3 TERSANGKA MARK UP DI PLTU BUKIT ASAM, NEGARA RUGI RP 25 M

Nasional
medianusantaranews.com

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan 3 tersangka kasus dugaan pekerjaan retrofit sistem sootblowing PLTU Bukit Asam Unit Pelaksana Pembangkitan Bukit Asam PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan (UIK SBS) 2017-2022.

” KPK menetapkan tiga orang sebagai Tersangka, yaitu Bambang Anggono selaku General Manager pada PT PLN UIK SBS, Budi Widi Asmoro selaku Manajer Enjiniring pada PT PLN UIK SBS dan Nehemia Indrajaya selaku Direktur PT TEI (Truba Engineering Indonesia),” ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat konferensi pers di Gedung KPK, Selasa (09/07/2024).

” Kerugian negara yang ditimbulkan dalam pekerjaan itu mencapai Rp 25 miliar. Ada indikasi mark up harga 135% dari total proyek senilai Rp 74,9 miliar. Sementara riil cost PT TEI dalam pelaksanaan pekerjaan retrofit sootblowing sekitar Rp 50 miliar,” jelasnya

Dijelaskannya, saat ini auditor sedang merampungkan proses perhitungan final besaran kerugian negara dari perkara tersebut. Kerugian negara yang timbul kurang lebih sekitar Rp 25 miliar,” katanya.

Alex membeberkan bahwa konstruksi perkaranya berawal pada 17 Januari 2018. Saat itu, PT PLN (Persero) Pusat menyetujui usulan anggaran yang diajukan PT PLN UIK SBS yang di antaranya memuat anggaran pengadaan retrofit sootblowing sistem PLTU Bukit Asam tahun 2018 sebesar Rp 52 miliar.

Sebulan berselang, pertemuan pun dilakukan di antara ketiga tersangka bersama dengan Direktur PT Austindo Prima Jaya Abadi Erik Ratiawan selaku agen produk Clyde Bergemann, Deputi Manager Enjinering PT PLN UIK SBS Mustika Efendi, dan Asisten Engineer Reverse dan Rekayasa Divisi Enjinering PT PLN UIK SBS Fritz Daniel Pardomuan Hasugian.

Pertemuan itu untuk membahas mengenai teknis material dan harga penawaran sootblower untuk rencana pekerjaan retrofit sistem sootblowing.

Budi Widi Asmoro kemudian menetapkan dan menunjuk Nehemia Indrajaya sebagai calon pelaksana pekerjaan tersebut. Lalu, Nehemia kemudian menyusun spesifikasi teknis produk dan harga penawaran yang akan digunakan sebagai dasar pengadaan oleh PT PLN UIK SBS.

Pada 15 Februari 2018, Nehemia pun mengirimkan spesifikasi teknis sootblower Type Blower F149 dengan harga penawaran sebesar Rp 52 miliar kepada Budi Widi Asmoro dan jajaran Divisi Enjinering PT PLN UIK SBS serta pihak PLTU Bukit Asam.

Budi kemudian merespons dan meminta pihak PLTU Bukit Asam agar menindaklanjuti data spesifikasi teknis dan harga penawaran tersebut dengan pembuatan Kajian Kelayakan Proyek (KKP) sebagai dokumen dasar proses pengadaan yang diajukan oleh PLTU Bukit Asam.

Dokumen itu pun dibuat oleh pihak PLTU Bukit Asam dengan back date tahun 2017 dengan spesifikasi teknis dan Rincian Anggaran Biaya (RAB) yang sama dengan harga penawaran dan selanjutnya disampaikan kepada Divisi Engineering PT PLN UIK SBS.

“Sekitar pertengahan 2018, terdapat kesepakatan antara Nehemia dan Budi bahwa terhadap pengerjaan pekerjaan retrofit sistem sootblowing PLTU Bukit Asam akan dibuat penambahan harga sekitar Rp 25 miliar dari penawaran awal Rp 52 miliar,” papar Alex.

Budi bersama dengan anak buahnya kemudian menyetujui skema penambahan harga atau anggaran pekerjaan tersebut dengan cara seolah-olah terdapat penambahan dan perubahan spesifikasi teknis produk jenis sootblower.

Pada Agustus 2018, Divisi Enjinering PT PLN UIK SBS dan Bambang Anggono kemudian mengajukan penambahan anggaran sebesar Rp 25 miliar dengan dasar seolah-olah terdapat perubahan spesifikasi teknis sootblower dari Type Smart Canon ke Type F149 sehingga terbit SKAI nomor: 4407/KEU.01.01/DIR/2018, tanggal 7 November 2018 di mana di antaranya disetujui perubahan atau penambahan anggaran pekerjaan retrofit sistem sootblowing PLTU Bukit Asam menjadi Rp 75 miliar.

Alex mengungkapkan bahwa modus korupsi dalam kasus ini yakni mark-up harga. Modus tersebut dinilai KPK tidak sesuai dengan prinsip pengadaan barang dan jasa di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Proses lelang pengadaan yang dilaksanakan pada Oktober-November 2018 pun dinilai adanya pengaturan dan kelemahan. Dalam lelang, PT TEI ditetapkan sebagai pemenang proyek tersebut.

Dalam kasus ini, Nehemia disebut memberikan sejumlah uang kepada 12 orang pihak PT PLN. Di antaranya, Budi Widi Asmoro menerima sekurang-kurangnya Rp 750 juta. Selain itu, terdapat uang sejumlah Rp 6 miliar yang telah disetorkannya ke rekening penampungan perkara KPK atas dugaan penerimaan gratifikasi.

Selain Budi, pihak lainnya yang menerima aliran uang dari Nehemia yakni:

  • Mustika Efendi menerima sebesar Rp 75 juta;
  • Fritz Daniel Pardomuan Hasugian menerima sebesar Rp 10 juta;
  • Handono, selaku Pejabat Pelaksana Pengadaan menerima sebesar Rp 100 juta;
  • Riswanto, selaku Pejabat Pelaksana Pengadaan menerima sebesar Rp 65 juta;
  • Nurhapi Zamiri, selaku Pelaksana Pengadaan menerima sebesar Rp 60 juta;
  • Feri Setiawan, selaku Pejabat Perencana Pengadaan menerima sebesar Rp 75 juta;
  • Wakhid, selaku Penerima Barang menerima sebesar Rp 10 juta;
  • Rahmat Saputra, selaku Penerima Barang menerima sebesar Rp 10 juta;
  • Nakhrudin, selaku Penerima Barang menerima sebesar Rp 10 juta;
  • Riski Tiantolu, selaku Penerima Barang menerima sebesar Rp 5 juta; dan
  • Andri Fajriyana, selaku Penerima Barang menerima sebesar Rp 2 juta.

Kemudian saat dilakukan audit, Alex mengungkapkan bahwa keterangan ahli menunjukkan terdapat indikasi kemahalan harga sebesar 135 persen dari nilai pengerjaan proyek sebesar Rp 74,9 miliar.

Padahal, biaya riil pengerjaan oleh PT TEI dalam pelaksanaan pekerjaan retrofit sootblowing tersebut sekitar Rp 50 miliar. Sehingga, negara mengalami kerugian sekitar Rp 25 miliar.

Atas perbuatannya tersebut, ketiga tersangka disangkakan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Para tersangka, kata Alex akan dilakukan penahanan untuk 20 hari ke depan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Atau mulai 9-28 Juli di Rutan Cabang KPK. (Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *