Banyuasin,medianusantaranews.com- Dampak aktivitas dari kendaraan angkutan tanah untuk penimbunan proyek jalan tol Betung-jambi yang melintas di ruas jalan Negara Kampung Sedompo Kelurahan Betung Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan saat ini masih musim kemarau efeknya debu limbah tanah bertebaran masuk rumah warga.
Bukan hanya itu, dampak tebalnya debu tersebut selain mengancam kesehatan terutama batuk dan belek. Yang bikin warga mengeluh terutama yang usaha rumah makan. Semenjak proyek jalan tol itu beroperasi omsetnya merosot jauh, sehingga terus merugi, karena pelanggan terus berkurang akibat debu tebal masuk kedalam warung, tiru Ujang saat bincang dengan wartawan media ini beberapa saat yang lalu.
Menurut penjelasan warga yang terima Ujang bahwa, saat ini warga yang ngeluh diwilayah Kampung Sedompo dampak aktivitas kendaraan angkutan tanah itu yang membawa debu dan walaupun ada upaya penyiraman, namun tak optimal.
Lanjut Ujang, sedang armada angkutan tanah keluar-masuk lokasi proyek setiap, sementara penyiraman sangat minim dan armada yang dioperasikan memakai tedmon saja dan aktivitassnya pun setiap harinya hanya beberapa kali saja untuk melakukan penyiraman, sehingga justru tebaran debu semakin tebal, apalagi ruas jalan negara itu sangat padat dilintasi oleh berbagai kendaraan.
Yang namanya proyek nasional mestinya penyiramanya harus menggunakan truk Tanki bukan jenis carry menggunakan tedmon semacam itu.
“Jika tidak cepat datang hujan, masalah debu itu tentu akan menambah masalah baru bagi warga yang berdumisili dekat proyek terutama pemilik usaha rumah makan”, ungkap Ujang prihatin.
Masih kata Ujang, sebelum warga marah dimohon pihak management perusahaan supaya cepat mengambil langkah untuk menghilangkan debu yang meresahkan warga.
“Perusahaan yang meraup keuntungan dampak buruknya masyarakat disekitar proyek yang terima imbasnya”, pungkas Ujang.
Via WhatsApp Ketua RT di Sedompo saat diminta komentarnya dikatakan terkait masalah limbah debu Budi mengaku tak bisa banyak ngomong, sebab keluhan warga masalah itu telah saya laporkan ke Lurah tapi tidak ada tanggapan yang baik, jadi saya sudah tak bisa ngomong.
Sedang dalam rumah saya sendiri juga terkena dampak debu itu. “Jangankan warga yang dan pemilik usaha rumah makan saja yang mengeluh, saya juga lebih mengeluh, karena dalam sehari tak kurang 4-5 kali mengusap debu, padahal rumah saya ini sudah jauh dari lokasi aktivitas kendaraan angkutan tanah”, cetusnya dengan kesal.
Sebenarnya dengan adanya proyek itu ada kami sebagai warga sangat dukung, tetapi dari pihak pelaksana proyek agar punya hati, jangan seenaknya saja dalam mengoperasikan armada angkutan tanah dari lokasi galian menuju lokasi yang akan ditimbun. “Kan ada aturan standar guna mengantisipasi berbagai gejolak dari warga jika kehidupannya terganggu seperti saat ini”, pinta Budi agar dari pimpinan perusahaan jangan menutup mata.
Sayangnya, Lurah dan Camat Betung termasuk pimpinan Pt. W.A yang harus bertanggungjawab dari keluhan warga terkait limbah debu saat dikonfirmasi via WhatsApp hingga beritanya telah ditayangkan di media ini belum ada yang memberi jawaban.(MNN/waluyo)








